Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698890

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 543
Total Hits : 698890

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Kendornya Ikatan Sosial

Oleh : mpujayaprema | 26 Februari 2018 | Dibaca : 910 Pengunjung

SUNGGUH menyedihkan membaca berita-berita tentang bunuh diri yang begitu banyak terjadi di Pulau Bali, pulau yang disebut seribu pura. Puranya sendiri sudah pasti bertambah terus dan lebih dari seribu, namun angka bunuh diri juga semakin bertambah. Catatan di Komisi Perlindungan Anak Daerah Bali setiap tahun terjadi bunuh diri sekitar 100 sampai 180 kasus. Kalau angka ini benar maka rata-rata setiap bulan ada 15 kasus bunuh diri atau dua hari sekali.

Kejadian yang baru saja, tiga anak kecil tewas, dan diduga karena terkait usaha bunuh diri yang dilakukan ibunya, sungguh mengenaskan. Saya tak berani membaca berita itu secara lengkap. Bahkan foto anak-anak yang tewas itu mengingatkan ketiga cucu saya yang mirip wajah dan usianya. Semua foto yang nyelonong ke laman FaceBook saya itu langsung saya hapus. Bahkan kalau pengunggah memberi komentar yang lebih panjang, pertemanan di FaceBook saya delete.

Apa motifasi dari setiap kasus bunuh diri? Ada masalah ekonomi, kekecewaan dalam urusan keluarga, putus asa karena berbagai masalah termasuk urusan cinta. Ingat sepasang kekasih yang bunuh diri di Danau Batur beberapa tahun lalu.

Pertanyaannya adalah kenapa urusan seperti itu begitu cepat memicu untuk melakukan bunuh diri? Pelakunya tidak menemukan jalan untuk menyelesaikan kasus yang dihadapinya. Dalam kekalutan itu maka dia pikir mati adalah jalan penyelesaian dari semua masalah. Kalau sependek itu yang dipikirkannya maka dia telah gagal “lahir sebagai manusia”. Seperti yang saya tulis di rubrik Mimbar Hindu koran ini (Pos Bali Sabtu 24 Februari 2018), lahir sebagai manusia adalah kesempatan untuk memperbaiki karma yang mungkin tidak begitu bagus pada kelahiran sebelumnya. Maka apapun kesulitannya harus dihadapi dengan sebaik-baiknya. Hidup ini ujian tentu ada yang sulit ada yang mudah. Kalau dapat ujian yang sulit kita pecahkan dengan jalan “menghentikan hidup” maka resiko yang kita hadapi jauh lebih besar. Kita terperangkap dalam kegelapan selama 600 tahun di “kehidupan yang lain”. Semua agama menyebut “kegelapan panjang di alam sana” adalah neraka yang paling buruk.

Orang bisa menganggap masalah itu sebagai dongeng, cerita yang hanya menakutkan toh tak ada orang yang pernah ke sana. Kalau kita berpikir seperti itu, berarti kita sudah mengabaikan ajaran yang diberikan oleh agama, agama apa pun itu. Semua agama mengajarkan bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang paling terkutuk. Termasuk bunuh diri yang dianggap sebagai mati syahid yang akan dijemput tujuh bidadari kalau misalnya mau meledakkan bom bunuh diri. Saya banyak bertemu para ulama Islam, kiyai-kiyai di pesantren, mereka tertawa mendengar “janji masuk sorga dengan dijemput bidadari itu”. Agama Islam tak mengajarkan itu. Dan agama Hindu juga tak ada mengajarkan bunuh diri sebagai sesuatu yang bisa diterima.

Pemahaman agama pada masyarakat sepertinya tak ada kemajuan walau pun pura semakin banyak dibangun dan ritual keagamaan semakin meriah. Di era yang sudah maju ini orang gampang mendatangi pura, orang-orang rajin bersembahyang. Tapi hatinya kosong sehingga ketika kekalutan datang tak ada pemahaman agama yang bisa memecahkan permasalahan yang dijumpai dalam kehidupan. Tidak diimbangi pemahaman agama dalam melakukan ritual. Dharma wacana tidak banyak menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan moderen. Dharma wacana lebih banyak berurusan dengan ritual dan sesajen, apa makna ngenteg linggih dan bagaimana runtutan banten bebangkit. Bukan masalah bagaimana memutus karma buruk, bagaimana kehidupan setelah mati, apa yang dipersiapkan kalau misalnya kita merasa dijemput ajal.

Pemahaman agama yang kurang diperparah oleh ikatan sosial yang semakin luntur diterpa kemajuan teknologi komunikasi. Interaksi sosial sudah mengendor. Orang tak lagi punya tempat untuk melakukan curhat atau menceritakan keluhan-keluhan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan hidup era moderen ini berpengaruh besar dalam interaksi sosial sehingga jika ada orang mengalami masalah pelik dalam hidupnya tak bisa mengeluarkan uneg-uneg itu.

Dulu ibu-ibu kita punya banyak media untuk saling curhat. Mencari kutu sambil menceritakan kehidupan keluarganya, baik mau pun buruk. Menumbuk padi juga tak pernah diam obrolannya. Bergotong-royong membuat sesajen juga tetap “berkicau” tak putus-putusnya. Ada saja yang diobrolkan. Tentang suaminya yang melirik perempuan lain mau pun gosip-gosip sesama ibu. Selalu diselingi tawa.

Sekarang tak ada lagi ibu-ibu di desa punya kutu. Sampho sudah membunuh kutu di kepala itu. Penyosohan beras sudah ada di mana-mana, tak perlu lagi menumbuk di lesung. Gotong royong (ngoopin istilah di desa) membuat banten juga sudah hilang. Beli saja banten tak perlu repot. Banyak yang menjual banten. Individualisme berkembang dengan subur. Mana ada media untuk saling ngerumpi? Padahal ngerumpi itu adalah penyaluran yang baik dari uneg-uneg yang tersimpan di hati dan tak jarang di antara guyonan itu terselip petuah-petuah saling berbagi.

Sekarang semua asyik dengan handphone-nya. Piodalan di pura menunggu pemangku nganteb banten, orang lebih asyik dengan HP, entah itu fesbukan atau main games. Saya sering mengajak rombongan melakukan tirthayatra. Di perjalanan semua diam di mobil. Saya kira tidur, ternyata memelototi HP. Gosip sudah beralih ke media sosial.

Kesibukan dengan alat canggih ini tak hanya menerpa orang desa. Di kota bahkan lebih gawat. Cobalah lihat ketika antre membeli obat di apotek atau menunggu giliran dipanggil dokter. Tak ada yang ngobrol dengan teman duduk sebelahnya. Semua asyik sendiri bahkan ketawa-ketawa sendiri sambil memelototi HP. Interaksi sosial sudah dilakukan secara maya, dengan bayang-bayang karena orangnya tak ada, bahkan bisa tidak saling kenal.

Ikatan sosial yang kendor ini menyebabkan orang tak tahu apa masalah yang dihadapi tetangganya. Tiba-tiba ada yang bunuh diri. Atau yang lebih ringan, ada dua anak kecil yang susah payah mengurus bapaknya yang sakit (berita Pos Bali Jumat 23/2). Tak ada yang peduli karena tak ada yang tahu. Padahal ini di Kabupaten Badung di mana bupatinya sangat “bares” memberi bantuan.

Mari perbaiki ikatan sosial itu. Misalnya, perbanyak kerja bhakti gotong royong, entah itu menyapu jalanan atau bersih-bersih pura. Hidupkan kembali sekehe shanti. Atau versi lebih moderen, buat kelompok arisan, jalan santai setiap minggu. Banyak cara lain dan ini harusnya dipelopori aparat desa dan kaum terdidik. Tentu ditambah pemahaman agama kepada umat. (*)


Oleh : mpujayaprema | 26 Februari 2018 | Dibaca : 910 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?