Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698883

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 536
Total Hits : 698883

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Menunggu Perda Bahasa Bali

Oleh : mpujayaprema | 05 Maret 2018 | Dibaca : 971 Pengunjung

BAHASA Bali sebagai salah satu bahasa daerah yang besar di Indonesia kembali menjadi perhatian. Kali ini perhatian itu terkait adanya rencana untuk mengubah Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Ranperda perubahan itu merupakan inisiatif dewan dan DPRD Bali sudah membentuk panitia khusus yang diketuai oleh Nyoman Parta. Kini Pansus sedang gencar melaksanakan dengar pendapat ke kabupaten/kota seluruh Bali.

Apa sebenarnya yang diharapkan dari perubahan Perda itu? Tentu tujuan utamanya adalah bagaimana melestarikan bahasa Bali agar tidak punah ditelan waktu. Sudah banyak bahasa daerah yang punah dan tidak lagi digunakan oleh pemakainya karena gempuran bahasa lain, baik itu bahasa nasional, bahasa internasional dan bahkan oleh bahasa daerah tetangganya.

Di sini akan dibahas bagaimana cara melestarikan bahasa Bali. Lewat jalur pendidikan bagaimana sistem pengajaran bahasa Bali. Apa yang diberikan di SD, lalu apa yang diberikan di SMP dan SMA. Bahkan ada banyak usul di perguruan tinggi pun bahasa Bali harus mendapatkan perhatian utama. Usul itu, misalnya, menjadikan bahasa Bali sebagai Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di perguruan tinggi yang ada di Bali. Jika usul itu diterima dan masuk dalam Perda yang baru maka semua mahasiswa, apakah itu berasal dari Bali atau bukan, wajib mengikuti MKDU. Suatu hal yang pasti berat untuk mahasiswa yang bukan orang Bali.

Pendidikan nonformal di masyarakat pun akan dijadikan sasaran pula untuk pelestarian bahasa Bali ini. Itu dilakukan lewat penyuluh bahasa Bali yang sudah tersebar di berbagai desa dengan bantuan penuh dari Pemda Provinsi Bali. Penyuluh bahasa Bali ini sudah lama ada dan harusnya sudah ada evaluasi bagaimana ketertarikan masyarakat memakai bahasa Bali termasuk aksaranya sebelum dan setelah adanya penyuluh. Pemda Provinsi Bali cukup besar mengeluarkan dana dari APBD untuk penyuluh bahasa Bali ini. Tahun lalu anggaran itu sebesar Rp 8,1 milyar untuk mengangkat 716 guru penyuluh bahasa. Jumlah 716 itu disesuaikan dengan jumlah desa dinas dan kelurahan yang ada, dan masing-masing guru penyuluh bahasa Bali ini menerima upah Rp 1,7 juta sebulan.

Lalu bagaimana fakta yang ada di lapangan? Sejumlah gempuran terus berlangsung yang menggerus pemakaian bahasa Bali ini. Mari kita lihat contoh-contoh yang nyata ada.

Ketika Radio Genta dengan lokasi di Denpasar berdiri, konsep awalnya adalah radio berbahasa Bali. Radio milik grup Bali Post ini berkumandang dengan sepenuhnya berbahasa Bali. Dari pengantar penyiarnya, obrolan, sampai pada lagu-lagu pop yang ditayangkan semuanya berbahasa Bali. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Konsep sepenuhnya berbahasa Bali sudah tidak ada lagi. Sudah mulai campuran seperti halnya radio swasta yang lainnya, termasuk penayangan lagu-lagu pop. Penyebabnya karena pendengarnya diperkirakan terbatas hanya orang Bali, itu pun kalangan orang tua. Karena perkiraan seperti itu maka iklan pun terbatas. Bagaimana sebuah stasiun radio bisa hidup jika iklan tidak mendukung?

Hal senada juga terjadi di radio plat merah. Belum sebulan ini RRI Pro 4 Budaya Denpasar tidak lagi menjadi radio berbahasa Bali. Dengan alasan ikut jaringan RRI Pro 4 Budaya di seluruh Indonesia dan alasan lain bahwa radio ini masuk ke dalam jaringan internet sehingga bisa didengar di seluruh dunia, maka RRI Pro 4 Denpasar meninggalkan kekhususannya berbahasa Bali.

Maka acara-acara populer yang sifatnya interaktif menjadi berubah nuansanya. Sebut contoh acara “Dagang Gantal”, sebuah interaktif di mana pendengarnya bisa menyumbangkan tembang-tembang Bali. Bahkan begitu populernya acara ini pendengarnya dibagi per kabupaten, misalnya, hari Senin khusus pendengar Kabupaten Denpasar, Selasa untuk Kabupaten Gianyar dan seterusnya. Karena yang interaktif berjubel. Acara pun dibagi antara obrolan untuk saling menyapa dan acara bertembang.

Kini tak lagi sepenuhnya berbahasa Bali. Para penyiar yang mengantarkan acara ini, hampir seluruhnya dari pemain Arja RRI Denpasar, harus berbahasa Indonesia. Bayangkanlah apa yang terjadi, ada kekikukan dan suasana benar-benar menjadi kaku. Guyonan khas Bali menjadi aneh ketika dibawakan dalam bahasa Indonesia. Penyiar top seperti Luh Camplung (pemain Desak Rai), Yuyu Kangkang (pemain Wijil), Gde Tomat (pemain Punta), semua ini adalah nama-nama di udara, tiba-tiba menjadi salah tingkah dalam berbahasa.

RRI Pro 4 Denpasar pun bukan lagi menjadi corong budaya Bali. Sebagaimana RRI Pro 4 lainnya, mereka menjadi corong dari budaya Nasional. Acaranya berubah menjadi memperkenalkan budaya Nasional dan tak lagi sepenuhnya melestarikan budaya Bali. Kata kunci setiap acara yang semula “RRI Pro 2 Denpasar ngerewerdiang budaya Bali” berubah menjadi “RRI Pro 4 ensiklopedi budaya Nusantara”.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Sama seperti kasus Radio Genta Denpasar, mereka kesulitan menjaring iklan jika secara khusus berbahasa Bali. Lalu apa artinya? Tidak ada pemasukan lain selain iklan. Tak ada subsidi atau bantuan cuma-cuma semacam hibah, baik dari kalangan swasta maupun pemerintah agar stasiun radio itu tetap berbahasa Bali. Dengan kenyataan lapangan seperti ini maka mustahil melestarikan bahasa Bali jika tak mau berkorban untuk memberi bantuan kepada komunitas yang sudah berbuat untuk lestarinya bahasa Bali.

Apakah Perda yang baru nanti bisa berbuat banyak untuk melestarikan bahasa Bali? Atau bahasa Bali sebagaimana yang diramalkan orangakan mati pada tahun 2041dengan perkiraan alih generasi benar-benar terjadi? Kita tak bisa memastikannya, namanya saja ramalan. Namun harus diingatkan bahwa sudah ada 350 bahasa etnis di dunia yang mati. Puluhan bahasa daerah di Nusantara ini juga sudah mati. Tak usah jauh-jauh, bahasa Using yang dipakai masyarakat Blambangan (Banyuwangi) sudah mulai mati suri. Bahasa Using hanya masih dipakai untuk lagu-lagu daerah dan tidak lagi sebagai bahasa sehari-hari. Padahal Banyuwangi dan Bali hanya dibatasi selat pendek. Akankah nanti bahasa Bali hanya ada pada lagu-lagu tetapi tidak dipakai di pasar-pasar, misalnya? Kita tunggu apa hasil Perda yang baru. (*)


Oleh : mpujayaprema | 05 Maret 2018 | Dibaca : 971 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?