Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698887

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 540
Total Hits : 698887

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Karnaval Ogoh-Ogoh

Oleh : mpujayaprema | 19 Maret 2018 | Dibaca : 1008 Pengunjung

ADA fenomena menarik pada rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang lalu. Bukan soal matinya internet yang ternyata di beberapa tempat tetap hidup, tetapi masalah ogoh-ogoh pada saat pengerupukan. Fenomena pertama ogoh-ogoh sudah tidak lagi sakral. Ini persoalan sudah lama terjadi, bukan barang baru. Namun ketidak-sakralan itu semakin terang benderang. Fenomena kedua gairah para remaja atau yang biasa disebut teruna-teruni membuat dan mengarak ogoh-ogoh sudah mulai berkurang. Mereka merasa jenuh dan juga mulai menyadari bahwa membuat ogoh-ogoh itu mahal. Lalu mereka pun membuat asal-asalan dan tidak lagi ada semangat mengusungnya seperti dulu. Fenomena ketiga munculnya karnaval ogoh-ogoh yang dilakukan anak-anak kecil, bahkan anak PAUD dan TK.

Ketidak-sakralan ogoh-ogoh itu disebabkan oleh terputusnya hubungan antara ogoh-ogoh dengan tawur kesanga. Tawur dan ogoh-ogohnya tidak nyambung. Padahal awalnya konsep ogoh-ogoh itu adalah simbol dari bhuta kala yang akan di-somia (diubah statusnya) menjadi dewa lewat ritual tawur kesanga.

Berkurangnya gairah para teruna-teruni membuat dan mengusung ogoh-ogoh lantaran biayanya semakin mahal dan ada semacam “ketidak-adilan” dalam hal pembiayaan. Ogoh-ogoh di Bali Selatan umumnya mendapatkan bantuan pembiayaan dari pemerintah daerah setempat dan ogoh-ogoh pun dibuat menarik sehingga para remaja bersemangat mengusungnya. Namun akibatnya yang tidak mendapatkan bantuan, membuat ogoh-ogoh pun asal-asalan saja. Apalagi di desa-desa pegunungan, misalnya di Kabupaten Tabanan, tak ada bantuan dana dari pemerintah.

Di desa saya, ada tawaran dari tim sukses salah satu calon gubernur sebesar Rp 10 juta untuk membuat ogoh-ogoh. Syaratnya warga banjar lewat Kelihan Adat membuat surat pernyataan dukungan kepada calon gubernur itu. Itu tak jadi masalah, syarat itu langsung diterima toh pada saat Pilkada tak ada yang tahu siapa yang dicoblos. Namun ada syarat lain yang berat, yakni, menandatangani kwitansi untuk bantuan itu. Kelihan Adat dan masyarakat menolaknya. Warga sudah cerdas, kalau ternyata bantuan itu bermasalah dan menjadi kasus hukum, maka yang menandatangani kwitansi akan ikut terjerat kasus hukum. Akhirnya bantuan ditolak. Warga urunan uang untuk membiayai para remaja membuat ogoh-ogoh yang sederhana, tak sampai habis Rp 6 juta.

Fenomena ketiga menarik bagaimana anak-anak TK bergairah ikut karnaval ogoh-ogoh. Ada yang membuat atas nama TK, biayanya sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta rupiah. Tetapi banyak yang gabungan dua sampai empat anak mengusung ogoh-ogoh mini yang dibeli jadi seharga Rp 75 ribu sampai Rp 200 ribu. Tinggal dibuatkan alat pengusungnya. Ogoh-ogoh mini inilah yang merayakan pengerupukan di beberapa desa di kaki Gunung Batukaru pada Nyepi yang lalu.

Apa yang bisa dipelajari dari kasus ini? Semakin hilang fungsi ogoh-ogoh dalam kaitan Nyepi sebagai ritual agama. Namun ini bukan sesuatu yang negatif. Kalau umat Hindu sudah bisa menjalankan ritual agama dengan mengurangi sedikit-sedikit unsur simbol, bukankah itu sebuah kemajuan? Sudah cukup para pandita (sulinggih) atau pemangku melaksanakan ritual tawur kesanga dengan puja mantra yang dikuasainya, untuk apa lagi tambahan simbol berupa bhuta kala. Toh banten tawur itu sendiri sesungguhnya sudah simbol. Dibandingkan ogoh-ogoh dibuat sebagai simbol tetapi ternyata tak berfungsi, tentu lebih mubazir.

Ogoh-ogoh itu menjadi simbol yang konsumtif  jika tidak dipergunakan sesuai fungsinya dalam ritual tawur kesanga. Kalau biaya membuat ogoh-ogoh besar itu minimum menghabiskan Rp 10 juta (di Kabupaten Badung konon sampai dibantu Rp 20 juta untuk satu ogoh-ogoh), maka hitung sendiri berapa biaya yang dihabiskan untuk membuat ogoh-ogoh di seluruh Bali. Katakanlah desa adat di Bali ada 1.200 buah, lalu masing-masing desa ada 5 banjar adat, maka ada 6.000 ogoh-ogoh dan itu dikalikan Rp 10 juta maka di seluruh Bali uang untuk ogoh-ogoh mencapai Rp 60 milyar. Coba kalau dana ini dipakai untuk mencetak buku-buku agama Hindu dan dibagikan gratis ke umat, maka akan ada pemahaman yang lebih bagus untuk ajaran keagamaan.

Lalu bagaimana dengan ogoh-ogoh mini yang diusung anak-anak? Karena ini bukan keharusan sebagaimana yang sudah menjadi tradisi ogoh-ogoh oleh teruna-teruni, biarkan saja hal itu berkembang. Semuanya tergantung pada keluarga masing-masing. Keluarga yang hidupnya sederhana, tak mungkin membelikan anaknya ogoh-ogoh mini meski pun anak itu menangis meraung-raung. Untuk biaya hidup sehari-hari saja sulit. Tetapi yang berkecukupan, malah orang tuanya sengaja membelikan yang lebih besar dan indah aksesorisnya karena selesai dipakai “bermain-main” pada saat tawur kesanga, ogoh-ogoh mini itu bisa dijadikan hiasan kamar tamu. Namanya ogoh-ogoh mainan tak perlu dipralina dengan membakar, misalnya. Anggap saja boneka yang banyak dijual di toko mainan anak-anak.

Karena ogoh-ogoh mini ini hanyalah mainan anak-anak yang tingkatnya sama saja dengan boneka, maka tak harus mengikuti pakem ogoh-ogoh ritual yang digunakan sebagai nganteb tawur kesanga. Jadi, wujudnya tak harus raksasa. Lihat saja pada pengerupukan yang lalu, ada tokoh Anoman, Krishna, Arjuna dan sebagainya. Bahkan juga berwujud awatara. Tidak masalah. Justru dari wujud yang beraneka ini anak-anak bisa belajar kisah-kisah Hindu, apakah itu ada dalam Purana atau Ihiasa. Misalnya, sekelompok anak mengusung ogoh-ogoh berwujud Narasingha lalu para orang tua menjelaskan apa fungsi Narasingha sebagai awatara. Anak tertarik ogoh-ogoh Wisnu Murti, lalu para guru menceritakan kenapa Dewa Wisnu bisa murka lalu berubah wujud. Ogoh-ogoh mini jadi sarana untuk belajar.

Perayaan Nyepi memang terus berubah sepanjang zaman. Inti pantangan (brata) saat Nyepi sudah berubah dari masalah ritual agama ke masalah sosial. Pengendalian diri melaksanakan catur brata penyepian sudah diatur-atur oleh majelis agama dan pemerintah, bahkan majelis agama non-Hindu pun ikut bersama mengaturnya. Contohnya, kali ini ada tambahan “amati internet” mungkin tahun depan ada lagi pantangan yang lain. Karena itu memang ada baiknya ogoh-ogoh dikarnavalkan saja sampai pada saatnya semua merasa jenuh dengan perayaan Nyepi. (*)


Oleh : mpujayaprema | 19 Maret 2018 | Dibaca : 1008 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?