Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698889

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 542
Total Hits : 698889

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Museum yang Sepi

Oleh : mpujayaprema | 26 Maret 2018 | Dibaca : 919 Pengunjung

KALAU saja Wayan Koster, calon gubernur yang diusung PDIP, tidak mengunjungi Museum Purbakala Gilimanuk, saya tak lagi ingat kalau ada museum di ujung Bali Barat itu. Terus terang saya belum pernah mengunjungi museum itu, entah barang purbakala apa saja isinya. Lewat di jalan raya depan museum sering kalau mencari jalan melingkar sepulang dari Jawa. Tetapi untuk mampir belum, meski seringkali ada niat. Apakah Anda sudah berkunjung ke museum itu? Saya kira banyak yang menjawab tidak.

Wayan Koster, menurut berita di koran, prihatin ketika mengunjungi museum di Gilimanuk itu. Benda purbakala yang dipajang begitu penting yang mencerminkan peradaban dunia jauh sebelum masehi. Namun pengunjung museum tidak banyak. Sepinya pengunjung ini membuat Koster punya gagasan untuk menjadikan museum sebagai destinasi wisata. Entah bagaimana caranya. Tapi idenya itu tak usah diulas di sini, nanti berbau kampanye Pilkada.

Bahwa museum di Bali sepi peminat itu bukan hal yang baru. Bukan saja sepi peminat tetapi sudah “sepi perawatan” bahkan antara hidup dan mati. Di sebut mati masih ada papan namanya, masih ada satu dua petugas, disebut hidup tak ada denyut kehidupan di museum itu. Terutama museum yang dikelola pemerintah dan khusus dalam bidang tertentu seperti Museum Purbakala di Gilimanuk itu.

Apakah Anda pernah mengunjungi Museum Subak di Kediri, Tabanan?  Barangkali juga tidak pernah. Saking sepinya, lokasi museum ini pernah dipakai untuk kantor sementara pelayanan Samsat Kabupaten Tabanan. Keberadaannya juga antara hidup dan mati.

Kalau disebut Museum Subak itu penting, memang sangat penting. Di sinilah perjalanan budaya Bali bisa ditelusuri terutama budaya dalam sistem pertanian. Di museum inilah kita melihat barang-barang yang tidak dipakai lagi sekarang ini. Sejumlah alat pertanian ketika sawah masih murni dari semprotan pupuk kimia dan belum dikenal traktor. Ada alat-alat pertanian tradisional di sana, seperti tengala, lampit, ani-ani dan sejenisnya. Ada pula yang sifatnya ritual, katakanlah misalnya perangkat alar ngelinggihan Hyang Nini, membawa padi ke lumbung. Sisa-sisa ritual itu hanya ada di museum karena saat ini padi tidak ada masuk lumbung. Padi rontok di tengah sawah masuk karung, diangkut mobil ke tempat penyosohan. Di mana tempatnya Hyang Nini sekarang ini, kalau bukan di museum?

Ide pendirian Museum Subak itu memang untuk mengantisipasi kemajuan zaman bahwa suatu saat subak dengan segala pernik-pernik perlengkapannya akan hilang. Boleh saja kita sedih mendengarnya, sebuah organisasi tradisional Bali yang begitu dikagumi dunia dan menghasilkan berbagai buku, tiba-tiba rontok oleh perubahan. Karena itu perlu ada museum. Tapi kalau museum itu sendiri sekarang antara mati dan hidup, lalu apa lagi yang bisa dikenang dari subak dan sistem pertanian masa lalu di Bali ini?

Mari pindah ke museum yang lain, Museum Geopark Batur,yang ada di Kabupaten Bangli. Apakah Anda pernah ke sana? Museum ini sekarang sedang dibenahi menyambut hajatan besar yang digelar tahun ini di Nusa Dua, siapa tahu peserta kongres besar itu ada yang tertarik ke museum ini.

Museum ini pun sangat penting sebagai tempat menimba ilmu soal gunung api. Keberadaan 127 gunungapi aktif yang ada di Indonesiabisa dipelajari di sini. Ratusan gunung tersebut terbentang luas dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Halmahera, hingga Sulawesi bagian utara dan membentuk busur gunungapi Indonesia. Museum yang sudah diberi label Batur Global Geoparkiniditetapkan menjadi jendela informasi gunung api yang ada di Indonesia oleh Global Geopark Network UNESCOpada20 September 2012 di Portugal.

Di museum ini ada informasi menarik tentang bagaimana terbentuknya Pulau Bali.Pulau Bali terbentuk dari adanya kegiatan gunungapi di bawah laut lebih dari 23 juta tahun lalu di sebelah timur pulau Jawa. Di bawah kulit bumi terdapat magma yang sangat panas sehingga melelehkan kerak bumi di atasnya atau yang dikenal dengan hotspot. Lalu terjadi pengendapan di bawah laut yang diduga berasal dari erosi batuan yang terdapat di Pulau Jawa bagian timur. Sementara di bagian selatan mulai tumbuh subur terumbu karang. Pertumbuhannya terhenti dan menjadi batu gamping terumbu. Sebagian berlapis dan berada di bagian selatan Pulau Bali dan di Pulau Nusa Penida. Ada 19 penjelasan tentang terbentuknya Pulau Bali.

Museum yang berlokasi di Penelokan ini memang tidak sesepi Museum Purbakala di Gilimanuk atau Museum Subak di Kediri. Namun tetap belum menjadi daya tarik pengunjung meski pun sudah dicanangkan sebagai salah satu destinasi pariwisata di Kabupaten Bangli. Agaknya memang museum yang dikelola pemerintah hampir semuanya menyedihkan. Termasuk juga Museum Gedong Kirtya di Singaraja yang menyimpan ribuan koleksi lontar. Kalau museum ini tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah koleksi lontarnya bisa keropos dimakan waktu karena perawatannya harus khusus dan berbiaya mahal.

Pemertintah Bali memang banyak mengelola museum. Di Denpasar museum tua seperti Museum Bali masih lumayan pengunjungnya, terutama turis asing. Begitu pula museum yang tergolong baru, yakni Museum Bajra Sandhi di Renon. Museum inimerupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang dibangun dengan unik berbentuk bajra atau genta. Museum ini menjadi simbol masyarakat Bali untuk menghormati para pahlawan danmerupakan lambang pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi. Di sini ada diaroma berbagai perjuangan rakyat Bali.

Kalau museum yang dikelolapemerintah sepi pengunjung makamuseum swasta yang dibuat sendiri oleh para senimanmasih lumayan dikunjungi peminat. Juga perawatannya lebih baik. Kuncinya adalah para seniman senior dan umumnya sudah kaya itu punya ketergantungan bisnis dengan tema museum itu. Sebut misalnya Museum Neka di Ubud, Museum Rudana di Peliatan, Museum Klasik Gunarsa di Klungkung.

Jadi kalau Koster ingin menghidupkan museum yang dikelola pemerintah daerah Bali, jika terpilih menjadi gubernur nantinya, dia memang harus menjadikan museum itu sebagai bagian dari bisnis pariwisata. Ya, harus dilibatkan dan dikaitkan sebagai destinasi wisata yang terpadu dan dipromosikan sebagaimana obyek wisata lainnya. (*)


Oleh : mpujayaprema | 26 Maret 2018 | Dibaca : 919 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?