Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698882

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 535
Total Hits : 698882

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Presiden Planga Plongo

Oleh : mpujayaprema | 02 April 2018 | Dibaca : 796 Pengunjung

KATA yang sekarang viral di media sosial adalah kata planga plongo. Kata itu menjadi begitu terkenal karena sumbernya datang dari cuitan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, di Twitter. Lengkapnya status Fadli Zon itu adalah: "Kalau ingin bangkit dan jaya, RI butuh pemimpin seperti Vladimir Putin: berani, visioner, cerdas, berwibawa, nggak banyak ngutang, nggak planga plongo.”

Awalnya orang malas menanggapi pernyataan Fadli Zon ini. Selain terkenal nyinyir terhadap kebijakan pemerintah, data yang disuguhkan Fadli Zon banyak yang tak akurat. Vladimir Putin adalah Presiden Rusia yang kini terpilih kembali dengan sistem yang otoriter dan cenderung diktator. Utang Rusia pun besar. Karena itu awalnya yang menanggapi cuitan Fadli ini hanyalah mengolok-olok dengan menyebutkan, kalau saja Putin jadi Presiden Indonesia orang seperti Fadli sudah dimasukkan penjara.

Namun tiba-tiba kata planga plongo dipersoalkan pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Lewat Ketua PSI Tsamara Amany, Fadli Zon diminta menjelaskan siapa “pemimpin RI yang planga plongo” itu. Walau cuitan Fadli tak secara gamblang menyebut sebuah nama, namun bagi PSI hal tersebut jelas mengarah kepada kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tsamara mengundang Fadli Zon berdebat secara terbuka. Dan kasus ini pun jadi viral di media sosial dengan topik kata planga plongo.

Apa arti planga plongo? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini adalah plonga plongo (bukan planga...). Berasal dari bahasa Jawa yang artinya (1) mulut ternganga, (2) tercengang. Namun nampaknya dalam kasus apa yang disindir Fadli Zon itu, kata plonga plongo berarti lebih luas. Lebih banyak unsur negatifnya yang menjurus kepada pertanda orang itu tidak pintar, tidak mengerti persoalan. Pokoknya agak bodohlah. Apa seperti itu yang dimaksudkan dan yang lebih penting lagi apa betul yang ditujukan itu adalah Jokowi? Perlu penjelasan dari Fadli Zon yang kini adalah Wakil Ketua DPR.

Namun apa pun, kesan orang adalah Fadli memang menyindir Jokowi. Nah jika ini yang terjadi maka masalahnya tentu bersifat karakter seseorang yang mempengaruhi gaya kepemimpinan. Tak semua pemimpin itu satu type. Dan yang sangat penting tak semua pemimpin itu harus mematut-matutkan dirinya agar selalu kelihatan berwibawa seolah-olah pemimpin itu harus kaku, protokoler dan seterusnya. Barangkali itu karena kebiasaan saja masyarakat melihat type pemimpin seperti itu.

Jokowi adalah presiden yang kurus dibanding presiden sebelumnya. Dibandingkan rivalnya pada Pemilu 2014 yakni Prabowo Subianto mau pun presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi kalah gagah. Wajahnya juga tetap khas orang Jawa yang sangat merakyat. Tapi yang kita mau apakah presiden yang gagah dengan gaya sebagaimana ketika feodalisme masih kuat, atau presiden yang mau bekerja untuk rakyatnya? Dalam hal hasil kerja tentu masyarakat bisa menilainya sendiri terlepas dari bagaimana gaya sang presidennya.

Barack Obama juga mengubah gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat sebelumnya yang demikian formal dan nyaris kaku di depan umum. Selain berkulit hitam tampangnya juga lebih pas sebagai pemusik dibanding politikus, demikian orang menyebutkan di awal-awal penampilannya. Lihatlah bagaimana Obama naik ke tangga pesawat kepresidenan. Ia berlari kecil seolah ingin cepat sampai di atas dan melambaikan tangan kepada pengantarnya. Presiden yang lain naik pesawat seolah menghitung anak tangga.

Dalam jamuan makan kenegaraan di Istana Negara yang umumnya sangat formal dan kaku, Obama bisa mencairkan kekakuan itu. Ketika ia memberikan sambutan, bukannya ia basa-basi dan memuji-muji tuan rumah. Ia malah menyebutkan bagaimana menu yang dihadapi: nasi goreng, sate ayam, krupuk dan “semuanya enak”. Berpidato di kampus Universitas Indonesia. Obama mengawali sambutannya dengan “pulang kampung nih ye...” yang membuat hadirin sontak tertawa. Bukan basa-basi memberikan salam.

Itulah gaya kepemimpinan, suatu hal yang tak bisa diseragamkan. Dan Obama dianggap berhasil memimpin negara besar seperti Amerika Serikat selama dua periode. Begitu pulalah dengan Jokowi. Selain dianggap planga plongo Jokowi pun disebut klemas-klemes sebagai orang Jawa. Jokowi tak terpengaruh dengan sebutan itu atau sama sekali tidak marah. Ketika kebijakan Jokowi banyak disebutkan sebagai pemberani, misalnya, membuat Perpu Ormas dan membubarkan HTI, memangkas beberapa perizinan yang menghambat investasi, Jokowi dituduh otoriter dan diktator. Apa kata Jokowi? “Lho dulu saya disebut planga plongo sekarang kok disebut diktator?” Orang pun tertawa dan Jokowi tak melanjutkan ungkapan itu. Tentu hal yang aneh kalau planga plongo yang kesannya lemah, bodoh, cengengesan tiba-tiba berubah menjadi diktator dan otoriter.

Cobalah iseng lihat komentar-komentar di media sosial terutama FaceBook dalam kaitan dengan Pilkada Bali – itu kalau mau melihat komentar-komentar yang menjurus sampah. Ada saja orang yang menyoroti calon-calon gubernur dengan penampilan phisik dan gayanya. Misalnya, ada yang menyebutkan “Wayan Koster kok kurang berwibawa” dan seterusnya. Apa yang dimaksudkan berwibawa? Ternyata type pemimpin-pemimpin yang selama ini dikenal seolah-olah itulah “ciri pemimpin”, orang-orang sekitarnya manggut-manggut, pemimpin yang sok memerintah dan dirinya paling benar. Koster ini lahir dari akademisi yang terbuka dengan berbagai pendapat yang berbeda, bukan orang yang gemar orasi di depan podium. Mari yang disoroti adalah ide dan program yang mau diwujudkan.

Jadi intinya marilah kita mengubah persepsi kita tentang pemimpin yang harus nampak berwibawa, berpakaian yang rapi, berjalan dengan penuh perhitungan langkah, dikelilingi orang-orang yang nampak penakut, dikawal dengan ketat. Kita harus mulai menilai pemimpin dari hasil kerjanya dan biarkan dia akrab dengan rakyat kecil. Biarkan saja Jokowi planga plongo bersama rakyat di pasar, bergurau dengan orang yang naik ke panggung, menonton film bersama penonton yang tidak disortir. Kalau mau dikritik, ya, kritik hasil kerjanya. Jangan kritik gayanya apalagi dengan menghina. (*)


Oleh : mpujayaprema | 02 April 2018 | Dibaca : 796 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?