Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717674

Pengunjung hari ini : 220
Total pengunjung : 188558

Hits hari ini : 562
Total Hits : 717674

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Patutkah Patung Wisnu di Selatan

Oleh : mpujayaprema | 07 April 2018 | Dibaca : 1016 Pengunjung

SAAT saya memberi ceramah di hadapan para polisi di lingkungan Polda Bali akhir bulan lalu, seorang anggota polisi bertanya: “Patutkah patung Dewa Wisnu ada di Bali bagian selatan. Karena orang menyebutkan Pulau Bali adalah suci, tentu kesuciannya harus dijaga dan mendirikan patung dewa itu sesuai dengan letak Dewata Nawa Sanga”.

Saya pun memberikan penjelasan bahwa letak patung yang disucikan oleh umat Hindu seharusnya memang memakai pedoman sastra Hindu. Di selatan itu adalah patung Dewa Brahma dan patung Dewa Wisnu semestinya ada di utara. Namun tiba-tiba saya diingatkan kenapa polisi ini bertanya letak patung. Ternyata dia bertugas sebagai Babinsa di salah satu desa di Bali Selatan. Dan dia selalu mendapat pertanyaan kenapa monumen Garuda Wisnu Kencana dibangun di kawasan Ungasan yang merupakan daerah paling selatan di Bali. Monumen ini menurut rencana akan segera diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Saya katakan kemudian, monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang digagas Nyoman Nuartha ini bukan tempat sakral. Kalau patung Wisnu yang dipajang di sana bukan sesuatu yang sakral tak perlu sastra Hindu untuk menjelaskan di kawasan mana sebaiknya dibangun. Yang jadi masalah kenapa Nyoman Nuartha memberi nama monumennya itu Garuda Wisnu Kencana? Kalau cuma nama Wisnu tidak masalah karena banyak orang bernama Wisnu. Toko pun ada bernama Wisnu. Tetapi kalau dirangkai menjadi Garuda Wisnu Kencana itu menjadi sebutan yang sakral karena menyangkut tunggangan (atau pelinggihan) Dewa Wisnu.

Bagi pemeluk Hindu, Garuda Wisnu amatlah sakral. Wujudnya sudah ada pakemnya. UmatHindutahu bagaimana menempatkan dan menghormati Garuda Wisnu itu. Tak mungkin patung Garuda Wisnu ditaruh di dapur, apalagi di kamar mandi.

Dalam kitab-kitab Purana, garuda itu ada banyak. Ada yang moncongnya tajam, itu disebut Garuda Wilmana,tunggangan atau kendaraan para raksasa. Ada garuda kakak beradik, yakni Sempati dan Jatayu.   Keduanya adalah garuda (artinya burung) yang menebarkan sifat cinta kasih, rela mengorbankan nyawanya untuk sesuatu yang mulia. Ini adalah simbolbagaimana makhluk ciptaan Tuhan itu berusaha meningkatkan status kehidupannya. Dari burung lalu berkorban untuk suatu yadnya yang mulia, dan padakelahiran kelak akan menjadi makhluk Tuhan yang lebih tinggi statusnya.

Dalam hikayatRamayana di Bali, baik dalam kekawin maupun pentas tari dan wayang kulit, yang ditonjolkan adalah peran Jatayu. Jatayu berusaha menyelamatkan Dewi Sita dari tangan Rahwana, tetapi kalah bertarung. Dan Jayatu yang sekarat kemudian ditemukan oleh Rama. Sebelum ajal, Jatayu memberitahu siapa yang melarikan Sita. Jatayu mencapai moksa berkat doa restu Rama. “Oh, Rama, engkaulah Dewa Wisnu,” begitu suara sayup Jatayu sebelum lenyap dari pandangan Rama dan Laksmana.

Sempati, kakak Jatayu, kalah bertarung melawan Rahwana sebelum Rahwana menculik Dewi Sita. Namun, Sempati ditemukan oleh sepasukan kera yang dipimpin Hanoman ketika menuju Alengka. Keadaan Sempati sudah mengenaskan, seluruh bulunya habis karena ditebas Rahwana. Ia tak bisa lagi terbang. Sebaliknya, pasukan kera itu mengalami kebutaan karena racun Sayempraba.

Sempati yang sudah dalam keadaan gundulmasih bertahan hidup karena punya kekuatan dalam urat nadinya. Dalam urat nadi itu tersimpan mantram dari Resi Rawatmaja yang begitu sakti, bisa untuk berbagai penyembuhan. Mantram itulah yang dipakaiuntuk menyembuhkan mata parakeraitu. Seluruh kera termasuk Hanoman menjadi sehat walafiat. Mereka pun segera berangkat menuju Alengka. Setelah ituSempati menemui ajalnya karena kekuatan urat nadinya telah habis. Ia bisa moksa karena di akhir hidupnya mengabdi kepada Rama, titisan Wisnu.

Garuda yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu adalah kombinasi dari sifat Jatayu dan Sempati. Di Bali diperkenalkan dengan sebutan Garuda Wisnu Kencana. Nah, adapun monumen GWK di Ungasan itu menjadi tempat hiburan, di bawah patung Wisnu ada pentas musik dan seni yang tak ada hubungannya dengan kesakralan agama Hindu. Memang sebaiknya monumen itu tidak memakai nama Garuda Wisnu Kencana, tapi apa boleh buat dengan alasan sudah terlanjur dikenal tak mau diganti. Apakah karena itu monumen GWK selalu mendapat masalah dan sudah dua puluh tahun lebih belum juga selesai? Entahlah. Yang jelas jangan coba-coba bermain di wilayah sakral untuk sarana hiburan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 07 April 2018 | Dibaca : 1016 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?