Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717669

Pengunjung hari ini : 220
Total pengunjung : 188558

Hits hari ini : 557
Total Hits : 717669

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Sarana Kaum Difabel di Besakih

Oleh : mpujayaprema | 21 April 2018 | Dibaca : 893 Pengunjung

ADA petisi di media sosial agar kaum difabel mendapatkan pelayanan yang ramah di Pura Besakih. Kaum difabel adalah orang yang mengalami cacat phisik khususnya lumpuh atau karena sesuatu hal tidak bisa berjalan sendiri. Mereka harus menggunakan kursi roda. Petisi ini mengajak siapa saja yang setuju agar Pura Besakih menyediakan jalur khusus untuk difabel.

Kenapa hanya ditujukan kepada Pura Besakih? Mungkin pembuat petisi tahu kalau Pura Besakih sebagai kahyangan jagat sudah punya pengelola yang baru. Pembuat petisi menyebutkan Pura Besakih rutin dikunjungi umat Hindu mau pun wisatawan lebih dari 3 juta per tahun dengan pendapatan mencapai Rp 1,6 Milyar. Diperkirakan ada 10 ribu kaum difabel setiap tahun mengunjungi Pura Besakih dan kesulitan naik tangga. Di Kabupaten Karangasem sendiri terdapat 2.471 kaum difabel dan tentu sayang sekali kalau mereka kesulitan ke Pura Besakih.

Apa sebaiknya yang kita lakukan? Kaum difabel dan penyandang disabilitas lainnya tak boleh kehilangan haknya untuk melakukan puja bhakti di sebuah pura, apalagi pura sebesar Pura Besakih. Selama ini kita tahu penyandang disabilitas banyak terlibat dalam kegiatan kesenian yang tak kalah menariknya dengan kaum normal. Penyandang tuna rungu bisa menari dengan baik lewat kode-kode yang disampaikan pelatihnya. Penyandang tuna netra bisa memainkan gamelan yang bagus. Sekehe Gong Dria Raba (sekolah untuk penyandang tuna netra) terkenal sejak dulu. Menyambut peringatan Hari Puputan Klungkung hari-hari ini Pemkab Klungkung mengadakan lomba geguntangan untuk penyandang disabilitas. Artinya mereka yang menyandang cacat tak boleh kehilangan hal untuk berbuat apa saja, baik di bidang kesenian mau pun dalam masalah ritual.

Namun apakah mungkin di Pura Besakih dibuatkan fasilitas jalan untuk kaum difabel? Begitu pula di setiap pura? Jika niat kita memang ada, tentu bisa. Namun bukan di jalan utama dari nista mandala ke madya mandala terus ke utama mandala. Fasilitas itu bisa dibuat dengan mempergunakan jalan samping yang umumnya setiap pura memiliki jalan itu. Khusus di Pura Besakih sepertinya jalan samping yang selama ini membelas Pura Penataran Agung dengan Pura Pedharman bisa dibagi untuk kaum difabel. Sehingga jika kaum difabel memasuki Penataran Agung bisa lewat jalan samping itu, persisnya di depan Pedharman Ratu Pasek Catur Lawa. Sekali lagi ini masalah niat saja apakah kita akan bersikap ramah terhadap kaum difabel. Tentu kaum difabel dan pemerhati difabel tak usah ngotot harus ada jalan khusus yang sejajar dengan tangga menuju utama mandala. Ini akan mengacaukan konsep pura itu sendiri.

Selama ini kita memang agak asing – dan sebagian orang mungkin menganggap aneh – jika para penyandang cacat memasuki pura untuk bersembahyang. Itu masalah kebiasaan saja yang kita lihat di Bali. Di luar Bali hal ini menjadi hal yang biasa, apakah ada jalan khusus untuk itu atau penyandang cacat itu dibantu orang lain dengan memapahnya atau menggendongnya. Di hadapan Tuhan tak ada yang membedakan apakah phisik orang itu normal atau cacat. Batasannya hanya pada “pelayan umat” seperti pemangku dan sulinggih yang harus sehat phisik dan rohani ketika melakukan pediksaan.

Ada cerita menarik dari tanah Bharata India. Di sebuah desa kecil bernama Vrindawan ada arca Shri Krishna yang dipuja ribuan orang setiap hari. Konon arca ini muncul begitu saja dari dalam tanah sekitar 400 tahun yang lalu. Kuil tempatmemuja arca Shri Krishna tersebut ber­nama Banka Bihari, diambil dari nama patung itu.

Tersebutlah seorang lelaki setengah baya yang setiap pa­gi dan sore hari datang teratur menghadap ke arca Krishna. Setelah beberapa waktu berlalu, seorang pendeta mulai menaruh perhatian pada lelaki tersebut. Ternyata ia seorang lelaki buta. Padahalorang-orang yang datang berkunjung ke tempat sem­bahyang itu tujuan utamanya adalah dapat melihat arca walau hanya sesaat. Lalu apa tujuan lelaki buta itu ke sana, bukankah dia tak bisa melihat?

Lelaki itu menjawab: “Saya memang tidak bi­sa melihat, tetapi Shri Krishna kan bisa melihat saya?” Pendeta kaget. Benar dalam hal memuja Tuhan bukannya Tuhan yang ingin kita lihat, tetapi Tuhan yang melihat kita. Marilah kita perlakukan penyandang cacat sama dengan orang normal saat memasuki pura. Janganlah kita yang repot melihat kekurangan orang itu karena Tuhan sendiri yang melihat hambanya yang penuh bhakti. (*)


Oleh : mpujayaprema | 21 April 2018 | Dibaca : 893 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?