Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717672

Pengunjung hari ini : 220
Total pengunjung : 188558

Hits hari ini : 560
Total Hits : 717672

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Memaknai Simbol Agama

Oleh : mpujayaprema | 23 April 2018 | Dibaca : 719 Pengunjung

IKATAN Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) menyelenggarakan diskusi bertajuk “Pemaknaan dan Etika Penggunaan Simbol-Simbol Agama” di Pura Rawamangun Jakarta, Sabtu 21 April lalu. Yang dibicarakan bukan saja simbol-simbol agama Hindu tetapi juga simbol-simbol agama lain. Karena itu sebagai nara sumber didatangkan pula wakil dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).

Diskusi dibagi dua sesi. Yang pertama simbol-simbol agama non-Hindu dari dua pembicara yang diwakili Prof Dr. Nurhayati Djamas dari ICMI dan Dr. Bruno Rumyaru dari ISKA. Sesi  kedua khusus membicarakan simbol-simbol agama Hindu. Diskusi ini tentu saja penting. Yang pertama diharapkan kita semakin tahu apa saja simbol-simbol agama lain non-Hindu sehingga kita bisa menyikapi makna simbol itu dan tentu pula harus hati-hati untuk menanggapinya agar tidak terkesan penghinaan. Begitu pula sebaliknya, kita harus tahu simbol-simbol agama Hindu yang kita sakralkan sehingga kita bisa menjaga kesuciannya dan jika ada umat lain yang secara sengaja melecehkannya kita bisa melakukan protes atau sekadar mengingatkan.

Belakangan ini simbol-simbol agama menjadi hal yang peka. Salah sedikit memberi komentar bisa berakibat fatal. Lihat saja contoh yang belakangan ini jadi viral sampai terjadi lapor-melaporkan. Yakni ketika Suksmawati Soekarno Putri membacakan puisinya yang berjudul Ibu Indonesia. Di sana dia menyebutkan suara adzan yang kemerduannya diperbandingkan dengan kidung. Juga sari konde (tatanan rambut) yang diperbandingkan dengan cadar. Ini menjadi ramai dan Suksmawati dilaporkan ke polisi karena adzan itu adalah simbol agama yang sakral. Merdu atau tidaknya bukan hal yang harus dipersoalkan. Dan kesakralan ini tak bisa diperbandingkan dengan hal-hal lain yang tidak sakral.

Bisa jadi masalah seperti ini timbul karena ketidak-tahuan orang terhadap mana simbol sakral dan mana yang tidak sakral. Kalau di pedesaan Bali misalnya ada masjid dan terdengar suara adzan yang kebetulan kurang merdu, lalu ada orang Bali yang menyebutkan: kok suaranya gak enak ya didengar? Kalau komentar itu diunggah ke media sosial akan jadi masalah, ya, seperti masalah yang dihadapi Suksmawati. Belum tentu orang itu melakukan penghinaan karena bisa jadi dia hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Inilah persoalannya, saat ini kita harus dianggap tahu mana simbol sakral itu.

Demikian pula sebaliknya. Ada orang non-Hindu yang seenaknya duduk di pelinggih untuk diambil potretnya. Mereka tidak tahu kalau itu penghinaan, apalagi puranya sepi dan pramuwisata yang mendampinginya tak memberi tahu kalau pelinggih itu sakral. Terjadi kehebohan. Beberapa waktu lalu juga ada orang non-Hindu yang diprotes ramai-ramai karena menjemur pakaiannya dengan menggantungkannya di pelinggih penunggun karang. Apakah orang itu menghina Hindu? Setelah ditelisik tak sepenuhnya ada unsur penghinaan. Orang itu mengontrak bangunan yang ada pelinggih penunggun karang yang tak pernah lagi berfungsi, Penghuni sebelumnya tak membongkar pelinggih itu. Maka orang itu pun menggantung pakaiannya di sana, mungkin dia pikir ini bangunan tak sakral lagi. Dalam kasus ini tak bisa kesalahan diletakkan pada pengontrak terakhir. Sekali lagi dasarnya adalah ketidak-tahuan.

Namun ada masalah lain yang seharusnya juga dikaji oleh umat Hindu sendiri. Yakni marilah kita mulai mendata dan menginventarisasi simbol-simbol mana yang sakral. Dengan cara itu maka kita sendiri harus lebih dulu tahu apakah simbol itu sakral atau tidak sehingga ketika ada orang lain yang menggunakannya kita bisa bersikap. Masalahnya sederhana tetapi yang terjadi di masyarakat sedikit rumit. Persoalannya adalah umat Hindu di Bali belum bisa tuntas dalam memisahkan mana simbol agama dan mana simbol adat. Kerancuan ini menyebabkan kita tak satu pemahaman terhadap simbol-simbol yang kita duga dilecehkan oleh orang lain.

Misalnya dalam hal berbusana. Apakah penggunaan destar, pakaian kebaya, kamben yang umum dipakai umat Hindu di Bali jika melakukan persembahyangan, itu simbol Hindu atau tidak? Banyak orang Bali yang menduga bahwa itu adalah simbol Hindu. Akibatnya adalah jika ada orang yang tidak mengenakan busana seperti itu memasuki pura maka dianggap pelecehan. Pernah saya saksikan beberapa tentara dengan pakaian dinasnya – meski sepatunya sudah dibuka – hampir saja disuruh keluar dari Pura Melanting oleh seorang pengunjung yang mengaku “prajuru di sebuah desa”. Alasannya pakaian seperti itu tidak boleh memasuki pura dan bersembahyang. Untung pemangku mengizinkan dan saya pun menjelaskan, bersembahyang ke pura tak ada aturan soal busana menurut ajaran Hindu. Busana yang dipakai oleh umat Hindu di Bali pada saat persembahyangan adalah busana adat. Artinya ini simbol adat, bukan simbol agama. Lihatlah umat di luar Bali, destar bisa diganti blangkon dan pakaian mengikuti budaya setempat. Dan di komplek militer hal yang biasa tentara bersembahyang memakai pakaian dinas.

Karena busana adat itu dikira simbol Hindu, maka ada pula yang resah melihat umat Kristen dan Katolik di Bali merayakan Natal dengan busana adat Bali. Apalagi gerejanya diukir khas Bali, begitu pula ada gebongan yang biasa dihaturkan ke pura, lalu ada gamelan gong lengkap dengan tari-tari Bali. Apakah ini pelecehan agama Hindu? Tidak. Mereka itu adalah umat Kristiani yang mempertahankan adat dan budaya Bali meski pun memeluk agama yang berbeda.

Banyak contoh lain termasuk yang abu-abu, berada di wilayah yang sulit antara simbol Hindu dan tidak. Misalnya Omkara. Jika Omkara itu dalam aksara Bali maka itu sakral untuk ritual di Bali. Omkara itu ada banyak dalam aksara suci Bali. Ada Omkara Mertha, Omkara Padu Muka, Omkara Patu Pada dan lainnya. Tapi bentuknya sudah baku tak bisa diubah-ubah kecuali memperbesar dan memperkecil sesuai bidangnya. Akan tetapi Omkara yang non-Bali variasinya begitu banyak, ratusan jumlahnya. Ini lebih pada kaligrafi. Kalau itu adalah simbol sakral umat mana yang mensakralkan dan bentuk yang mana yang sakral? Sulit untuk didata. Maka ketika ada sandal yang bergambar Omkara jenis ini, atau orang memakai tato dengan corak Omkara ini, seharusnya tidak dilihat sebagai pelecehan Hindu. Namun lebih pada etika. Kalau urusannya soal etika maka harus ada saling pengertian untuk tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.

Di sinilah pentingnya kita tahu simbol-simbol agama dengan benar sehingga kita mudah  untuk mengatakan yang mana simbol itu dilecehkan dan yang mana tidak. Diskusi yang dilaksanakan ICHI ini menjadi ajang dialog yang bagus. (*)


Oleh : mpujayaprema | 23 April 2018 | Dibaca : 719 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?