Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717667

Pengunjung hari ini : 220
Total pengunjung : 188558

Hits hari ini : 555
Total Hits : 717667

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Tari Bali tak Semua Sakral

Oleh : mpujayaprema | 28 April 2018 | Dibaca : 875 Pengunjung

ADA pementasan tari Bali yang ditayangkan sebuah televisi nasional. Namun penarinya bukan orang yang beragama Hindu. Itu nampak dari busana yang dipakai sang penari. Yakni ada jilbal putih yang dikenakan penari sebelum memakai gelungan dan atribut lainnya. Penari wanita yang berjilbab itu sudah pasti seorang muslimah, karena jilbal identik dengan busana umat Islam.

Ada LSM Hindu yang mempersoalkan kasus itu. Bagi mereka penari berjilbab itu melecehkan agama Hindu. Kenapa harus dikaitkan dengan Hindu? Apakah semua tari-tarian yang ada di Bali berhubungan langsung dengan ritual Hindu? Kalau disebutkan melecehkan tari Bali sebagai pelecehan budaya, barangkali masih masuk akal. Meski pun di zaman globalisasi ini pengaruh antar budaya tak bisa dibendung. Tari Bali sudah dipelajari di berbagai pelosok daerah bahkan di dunia internasional. Penarinya tak harus dibatasai orang beragama Hindu. Seperti halnya tari daerah lain, tak terkait dengan agama setempat. Sebut misalnya Tari Jaipong, tari itu sudah terkenal di berbagai daerah. Joged Bumbung di Bali banyak yang meniru gaya jaipongan ini bahkan termasuk joged jaruh (joged porno) justru mengekploitasi gaya jaipongan. Padahal Tari Jaipong di Jawa Barat termasuk tari pergaulan yang sopan, tidak seperti joged jaruh di Bali.

Dalam hal seni tari, sudah ada keputusan seminar kesatuan tafsir bahwa tari tergolong tiga hal. Yakni Tari Wali, Tari Bebali, dann Tari Balih-balihan. Tari Wali adalah tari yang pementasannya dilakukan sejalan dengan pelaksanaan upacara keagamaan di Bali. Misalnya Tari Rejang Dewa, Tari Pendet, Tari Baris Gede. Umumnya tari ini berupa tari lepas tanpa ada cerita, jadi sejenis simbolisasi ritual. Tari Bebali adalah tari yang pementasannya menunjang jalannya upacara sebagai sarana pengiring. Tarian ini umumnya bercerita yang disesuaikan dengan ritual keagamaan. Misalnya, topeng yang dikaitkan dengan Topeng Sidakarya, gambuh dengan cerita panji, wayang lemah dan sebagainya. Sedang Tari Balih-balihan adalah hiburan semata-mata. Dan ini tidak sakral. Misalnya Tari Joged, Tari Janger, Tari Legong dan banyak lagi.

Tari Pendet yang sakral tak bisa dipentaskan jika tidak terkait dengan upacara keagamaan. Tak bisa Tari Pendet dipergunakan untuk menyambut tamu, membuka upacara yang tidak sakral seperti rapat, seminar, kongres dan sebagainya. Karena itu para seniman di Bali menciptakan tari-tari yang tak sakral dengan inspirasi dari Tari Pendet. Dalam keputusan seminar kesatuan tafsir tari ini disebut Tari Pependetan, kurang lebih maksudnya “tari yang meniru sedikit pendet”.

Namun para seniman tari Bali tetap memberi nama khusus untuk ciptaannya ini. Maka ada berbagai jenis Tari Pependetan, seperti yang disebut Sekar Jagat, Sekar Jepun, Sekar Jempiring, Sekar Pucuk, Sekar Ibing. Semua memakai kata sekar (artinya bunga) karena dalam menyambut tamu itu disebarkan bunga. Ada yang memakai nama lain, misalnya, Tari Puspa Wresti, karena puspa juga berarti bunga.

Semua Tari Pependetan ini tidak ada yang sakral. Dia bisa dipentaskan di mana saja dan oleh penari siapa saja, tak harus penari beragama Hindu. Di luar Bali cabang-cabang tari ini sudah banyak ditarikan termasuk busananya yang bisa disesuaikan dengan budaya setempat.

Jika tari sejenis pependetan itu saja sudah tidak sakral dan tak harus dikaitkan dengan agama Hindu, apalagi tari legong lainnya seperti Tani Tenun. Tari Nelayan, Tari Taruna Jaya, Tari Oleg dan banyak jenis tari lainnya lagi. Ini betul-betul tari balih-balihan yang artinya hanya untuk tontonan hiburan. Kita harus arif memilah-milah hal ini agar tak terjebak pada masalah agama. Begitu pula kita harus paham apa saja simbol-simbol agama yang dituangkan dalam bentuk tari dan tidak semua tari Bali itu menyiratkan simbol agama Hindu.

Perayaan Natal di Palasari Kabupaten Jembrana sudah umum mementaskan tari Bali yang memang tak terkait dengan agama Hindu. Kebetulan umat Kristen di sana memang masih berbudaya Bali dan bahkan juga adatnya masih Bali. Apakah tidak boleh mementaskan Tari Nelayan atau Tari Tenun, misalnya? Tentu boleh saja. Demikian pula umat beragama bukan Hindu di daerah lain, boleh-boleh saja mementaskan tari hiburan itu. Jangan dikaitkan dengan agama Hindu kalau ternyata ada cara berbusananya yang disesuaikan dengan budaya dan keyakinan mereka. Marilah kita tidak grasa-grusu menuduh hal itu sebagai pelecehan agama. (*)


Oleh : mpujayaprema | 28 April 2018 | Dibaca : 875 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?