Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717666

Pengunjung hari ini : 220
Total pengunjung : 188558

Hits hari ini : 554
Total Hits : 717666

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Pura pun Mau Digembok

Oleh : mpujayaprema | 30 April 2018 | Dibaca : 808 Pengunjung

GARA-GARA ada turis asing masuk ke pura dan duduk di pelinggih sambil foto-foto maka umat Hindu marah. Tokoh-tokoh Hindu pun memberikan reaksinya. Ada yang minta supaya pura jangan dijadikan obyek wisata dan bahkan ada yang mengusulkan agar pura digembok sehingga tak seenaknya orang masuk ke dalamnya. Suatu kemarahan yang lumrah dan juga usul yang menarik, karena peristiwa seperti ini sepertinya terus terjadi ketika kita lengah.

Namun tak adakah cara pandang yang lain? Kalau pura digembok bagaimana umat bersembahyang yang bukan saat piodalannya? Apakah harus mencari pemangku terlebih dahulu? Atau umat Hindu yang datang ke pura untuk bersembahyang dibuatkan jadwal khusus? Belum ada usul yang lebih rinci.

Bahwa pura sebagai obyek wisata memang sudah sejak dulu terjadi. Bahkan di seluruh dunia tempat suci itu juga tempat untuk berwisata, tak sekadar sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan. Mari kita lihat contoh-contohnya.

Orangyang pergi ke Roma, Italia,pasti berniatmengunjungi Kota Suci Vatikan.Kota Vatikan adalah salah satu obyek wisata menarik di dunia. Wisatawan mengagumi arsitekturnya, koleksi yang bersejarah, tentu pula suasana religius untuk wisatawan yang beragama Katolik. Karena ini adalah tempat suci, tak semua ruangan bisa dimasuki wisatawan. Kapel Sistina, misalnya, di mana para kardinal berkumpul pada saat pemilihan Paus yang baru, tak bisa dimasuki wisatawan. Pada hari-hari tertentu keagaman Katolik beberapa bangunan juga steril dari pengunjung.

Di India, tempat suci umat Hindu pun menjadi obyek wisata yang menarik, tak hanya dikunjungi oleh pemeluk Hindu. Bahkan ada masjid atau tempat suci umat Islam yang menjadi obyek wisata yang penuh sesak pengunjung. Yakni Taj Mahal yang terletak di Agra. Arsitekturnya sangat dikagumi orang.

Di dalam negeri begitu banyak tempat suci di luar tempat suci umat Hindu yang jadi obyek wisata. Bukan saja pura yang dikunjungi wisatawan, juga masjid, gereja dan wihara. Masjid Istiqlal di Jakarta tiap hari (kecuali Jumat) dikunjungi pelancong yang tak semuanya beragama Islam. Ini masjid terbesar di Asia Tenggara yang dibangun oleh Presiden Soekarno pada 21 Agustus 1951. Arsitektur masjid bertingkat lima ini justru dibuat oleh penganut Kristen Protestan yaitu Frederich Silaban.

Masyarakat non-Muslim yang berkunjung ke masjid ini sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, seperti seharusnyawisatawan yang berkunjung ke Pura Besakih mendapat informasi dari pemandu wisata. Tentu ada aturan yang harus dipatuhi, misalnya, melepas alas kaki, tidak merokok dan berlaku sopan. Saya beberapa kali berkeliling ke sini melihat perpustakaannya.

Masjid Kudus yang lebih dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus, juga menjadi daya tarik wisatawan. Masjid yang dibangun tahun 1530oleh Sunan Kudus (nama asli Ja’far Sodiq)ini memanfaatkan peninggalan kuil Hindu yang dijadikan menara masjid, sampai kini. Begitu pula Masjid Agung Demak pun menarik bagi wisatawan. Ini masjid peninggalan Wali Songo yang dibangun tahun 1479. Masjid ini mengungkap banyak sekali sejarah Islam di Tanah Jawa selain arsitekturnya yang sangat dikagumi dengan begitu banyak tiang penyangga.

Masjid Menara Kudus dan Masjid Agung Demak sudah masuk ke dalam destinasi pariwisata nasional. Dalam rencana induk kepariwisataan nasional 2011-2026 masjid-masjid ini masuk dalam KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional) status yang masih di bawahKSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional). Pura Besakih tadinya masuk dalam status KSPN tetapi justru ditolak umat Hindu.

Gereja Katedral Jakarta di sebelah utara Lapangan Banteng setiap hari dikunjungi banyak wisatawan. Bahkan gereja umat Katolik yang bangunannya bergayaarsitektur neo-Gotik ini dijadikancagar budaya nasional.  Ini membuat gereja itu terpelihara dengan baik dan koleksinya terus bertambah. Kita di Bali jangankan menjadikan Pura Besakih sebagai cagar budaya, untuk dijadikan warisan budaya dunia saja menolak, bahkan kini masuk KSPN juga ditolak. Takut kesuciannya luntur, padahal terbukti gereja dan masjid terkenal tak pernah takut kesuciannya luntur hanya karena wisatawan.

Tentu ada bagian yang suci dan bagian yang bebas untuk dinikmati. Gereja Katedral Jakarta yang dibangunpada 1891 ini dilengkapi museum yang padat dikunjungi wisatawan.  Salah satu yang menarik, misalnya, bagian yang menyimpan busana rohaniawan Katolik, mulai dari jubah, topi, kasula berbagai warna. Kasula adalah lapisan terluar busana yang dikenakan rohaniwan Katolik.

Hal serupa juga saya lihat ketika mengunjungi vihara yang disebut-sebut sebagai terbesar di Asia, yaitu Maha Vihara Duta Maitreya di kota Batam. Banyak sekali ornamen yang digunakan oleh para bhiku dalam ritual maupun pernik-pernik ritual itu sendiri. Pengunjung bahkan bisa membeli replikanya untuk kenang-kenangan.

Nah kenapa pura yang jadi obyek wisata di Bali harus ditutup bahkan pura mau digembok? Karena kita tak punya konsep bagaimana menjadikan pura sebagai obyek wisata. Selama ini kita biarkan saja campur aduk antara wisatawan dan pemedek pura. Karena itu ketika umat mau bersembahyang ke jeroan pura, turis pun bisa ikut menyelinap. Pada saat umat sepi turis malah bisa masuk ke jeroan dan ambil-ambil foto di tempat suci.

Pura seharusnya tetap bisa dikunjungi oleh turis tetapi terbatas hanya sampai Kanista Mandala. Sedangkan pura yang besar seperti Pura Besakih dibuatkan jalan samping sebagai mana yang dirancang jika KSPN Besakih diterima oleh umat Hindu. KSPN Besakih yang  dananya daripusat, hanya membuat jalan lokal ke hutan lindung untuk melindungi flora dan faunasambil turis menikmati alam pura. Seperti halnya Katedral yang areal kebaktiannya tak bisa dimasuki turis, Pura Besakih tak bisa dimasuki turis pada bagian manda utama (jeroan) apalagi kePenataran Padma Tiga. Apapun alasannya, jika tidak bersembahyang, tak boleh masuk ke sana. Nah di luar itu lorong-lorong dibangun yang bagus. Wantilan Besakih di jaba bisa dijadikan museum (atau membangun yang baru), pamerkan berbagai sarana ritual, dokumentasi yadnya dan – meniru Katedral – pamerkan busana sembahyang.

PuraBesakih semakin tertata rapi jika Badan Pengelolamau menata lingkungannya. Dana KSPN bisa ditarik untuk ini. Tapi karenaKSPN sudah ditolak, ya sudahlah, kita akan tetap melihat Besakih yang semerawut seperti sekarang, turis seenaknya masuk puraasal memakai kaindansampah upacara berserakan di mana-mana. (*)


Oleh : mpujayaprema | 30 April 2018 | Dibaca : 808 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?