Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738920

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 410
Total Hits : 738920

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Menjaga Keutuhan Bangsa

Oleh : mpujayaprema | 21 Mei 2018 | Dibaca : 738 Pengunjung

KITA memasuki tahun politik 2018 dengan banyak masalah. Selain masalah politik itu sendiri dengan terpecahnya persatuan akibat perbedaan kubu yang makin menajam, ada masalah keamanan yang serius. Teroris lagi beraksi sementara revisi Undang-undang Antiteroris belum juga ada. UU Anti Teroris yang lama sama sekali tak mendukung upaya pemberantasan teroris saat ini. Undang-undang lama tak ada unsur pencegahan. Teroris baru bisa dilawan kalau sudah beraksi. Padahal kalau bisa dicegah sebelum beraksi tentu korban bisa dihindari.

Urusan politik itu sendiri sebenarnya masalah rutin lima tahunan. Ada pergantian anggota DPR, DPD dan presiden di tingkat pusat. Di daerah tentu dibarengi dengan pemilihan DPRD tingkat provinsi dan kabupten/kota. Namun suasana panas itu sudah terasa saat ini tatkala baru pada tahap menjelang pencalonan. Apakah itu pencalonan anggota DPR dan DPD maupun pencalonan presiden dan wakil presiden. Yang terakhir ini terasa lebih panas karena naga-naganya kubu yang bertarung sama dengan Pilpres sebelumnya.

Setiap hajatan pemilumenjadi penting karena nasib bangsa akan dipertaruhkan, akan dibawa ke mana negeri ini. Siapa orang-orang yang akan duduk di parlemen maupun siapa yang akan mengendalikan negeri ini menjadi presiden. Siapa yang akan menjadi wakil daerah yang disebut DPD itu. Apakah para senator ini sekarang lebih baik dari sebelumnya? Apakah mereka yang di pusat masih punya semangat nasionalisme atau hanya mementingkan kelompok sendiri? Apakah mereka toleran terhadap perbedaan ataukah diterpa angin intoleransi, sebagaimana gejala yang ada saat ini?

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan berkeping-keping jika keberagaman dan perbedaan tidak diakomodasi dengan baik. Kita sudah sejak lama mengenal sesanti Bhineka Tunggal Ika. Sesanti itu tertulis di antara dua kaki Burung Garuda yang menjadi lambang negara. Ini sudah menjadi simbol negara.

Kenapa Bhineka Tunggal Ika itu dijadikan sesanti oleh para pendiri bangsa ini? Bagaimana kisahnya? Banyak orang tidak tahu. Padahal sesantiBhineka Tunggal Ikaini ada kaitannya dengan ajaran Siwa Budha yang kini menjadi rujukan dari para penganut Hindu untuk bermasyarakat. Sesanti ini ada pada Kekawin Suta­somayang menjadi warisan dunia kesusastraan di Bali.

Kekawin Sutasoma menceritakan petualangan spiritual Sutasoma sebelum dan sesudah menjadi Raja Hastina. Bagian yang paling menarik memang saat munculnya sesanti Bhineka Tunggal Ika itu. Prabu Sutasoma siap untuk dijadikan korban santapan Bethara Kala sebagai pengganti dari 100 raja yang sudah ditangkap oleh raja raksasa Porusada. Raja Porusada ini memang membayar kaul mengorbankan 100 raja kepada Bethara Kala jika kakinya sembuh dari penyakit yang aneh.

Prabu Sutasoma ikhlas mengorbankan dirinya, tapi dia meminta satu hal. Nanging ana pamintaku, uripana sahananing ratu kabeh.”Artinya: “tapi ada permohonanku, hidupkanlah para raja itu semuanya”. Sutasoma mau dijadikan korban santapan raksasa Porusada, asal 100 raja yang sudah terlebih dahulu dibunuh, dihidupkan kembali.

Pengorbanan diri Sutasoma ini menyentuh hati Bethara Siwa yang menitis pada Porusada. Siwa kemudian meninggalkan tubuh Porusada dan kembali ke kahyangan. Sutasoma pun gagal menjadi santapan Porusada, sementara 100 raja yang sudah dibunuh hidup kembali dan dilepaskan untuk pulang ke kerajaannya. Ke seratus raja ini mengembangkan gaya kepemimpinan yang berbeda, memimpin masyarakat yang juga berbeda-beda, bahkan masing-masing raja menganut keyakinan (aliran atau sekte) yang berbeda. Namun tujuannya adalah satu, untuk kebenaran. Mpu Tantular, pengarang kisah Sutasoma ini  menulis kata-kata bertuah: Mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

Arti kata itu adalah berbeda-beda tetapi tunggal tujuan, menegakkan dharma, menegakkan kebenaran, mensejahtrakan rakyat. Kata-kata ini mengusik hati Muhammad Yamin, dalam sidang persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia lalu mengusulkan kepada Bung Karno agar kata ini dijadikan lambang persatuan Indonesia. Soekarno terhenyak dan dia setuju. Agar orang-orang tahu bagaimana “saktinya” kata Bhineka Tunggal Ika itu, Soekarno lalu meminta Dalang Granyam dari Sukawati untuk mementaskan “wayang Sutasoma” agar para tokoh bangsa lebih jelas menangkap makna dari sesanti ini. Dan sejarah pun mengukir, sesanti itu akhirnya menjadi simbol kenegaraan.

Karya sastra Sutasoma akhirnya begitu populer di tanah air. Ahli sastra Bali, I Gusti Bagus Sugriwa, berjasa mempopulerkan Sutasoma dengan membuat Kekawin Sutasoma. Kepopuleran Sutasoma kemudian menyebar melewati batas sastra. Ia muncul dalam lakon wayang kulit, sendratari, lukisan di atas kanvastermasuklukisan yang menghias Bale Kambang di Klungkung.

Siapakah Sutasoma di tahun politik ini? Seharusnya para pemimpin politik di negeri ini siap menjadi Sutasoma. Dalam arti mereka siap untuk berkorban demi keutuhan bangsa. Mereka harus mementingkan kepentingan bangsa yang lebih besar ketimbang mementingkan dirinya sendiri. Kalau mereka tak mau berkorban maka sifat-sifat keraksasaan Raja Porusadaakan terus hidup dan merusak keutuhan bangsa. Negeri akan tercabik-cabik. Dibutuhkan pengorbanan kalau memang tujuan akhir dari perjuangan adalah bagaimana membuat masyarakat sejahtra.

Saat ini yang ditonjolkan adalah perbedaan dan kepentingan kelompok. Kita sudah tahu bagaimana kepolisian dan aparat keamanan membutuhkan undang-undang antiteroris yang baru yang bisa digunakan untuk meredam aksi para teroris ketika perbuatannya belum dilakukan. Misalnya, tatkala para teroris itu merakit bom, tatkala agitasi dan kebencian diumbar di mana-mana sehingga menjadi penyemangat para teroris, aparat keamanan sudah bisa bergerak. Dengan langkah pencegahan ini tentu aksi mereka akan otomatis padam.

Jika Raja Porusada itu kita ibaratkan sebagai pemimpin yang haus kekuasaan dan tak memperhatikan nasib rakyat, maka roh Bethara Siwa yang ada di dalam tubuhnya harus dilepaskan. Bisa dengan permintaan halus sebagaimana dilakukan Sutasoma, namun kalau terpaksa bisa dengan ancaman seperti yang dilakukan Presiden Jokowi, kalau RUU Antiteroris tak bisa selesai akan dikeluarkan Perppu. Keutuhan bangsa harus menjadi perhatian bersama. (*)


Oleh : mpujayaprema | 21 Mei 2018 | Dibaca : 738 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?