Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738910

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 400
Total Hits : 738910

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Jangan Henti Sebarkan Damai

Oleh : mpujayaprema | 28 Mei 2018 | Dibaca : 728 Pengunjung

HARI-hari ini kita dipenuhi dengan hari raya keagamaan. Besok umat Buddha merayakan Hari Suci Waisak. Umat Hindu besok sudah memasuki rangkaian perayaan Hari Galungan. Selain Penampahan Galungan esok hari juga Purnama Sada yang merupakan bulan ke dua belas dalam kalendert Saka Bali. Sementara itu umat muslim sedang melakukan ritual puasa Ramadan dan sebentar lagi datang hari kemenangan, Idul Fitri.

Adalah kebetulan ketiga hari raya keagamaan ini bertemakan kemenangan. Galungan adalah kemenangan dharma melawan adharma, lebaran adalah perayaan kemenangan mengalahkan segala nafsu buruk. Demikian pula dengan Waisak merayakan kedamaian dunia dan kedamaian hati. Patut kita syukuri bahwa negeri yang majemuk ini tetap damai tanpa gangguan yang berarti. Bandingkan di negeri-negeri lain yang terus bergolak dalam perang.

Memang beberapa hari lalu, sebelum bulan suci Ramadan, ada bom meledak di tiga gereja di Surabaya. Pelakunya satu keluarga  melibatkan anak-anaknya yang masih kecil. Entah keyakinan apa yang bisa menggerakkan pasangan suami istri itu sampai bunuh diri dengan empat anaknya. Yang pasti sebuah keyakinan yang dikutuk oleh semua pemuka agama. Ada benarnya kita tak usah mengkaitkan si pelaku pengebom dengan agama yang ada di dalam kartu identitas mereka. Kalau itu kita kaitkan justru kita menjadi “kalah” karena asyik berdebat atas perbuatan orang sesat. Kita harus jadi pemenang dengan cukup mengutuk perbuatan mereka dan tidak menyebarkan ketakutan atas ulah mereka.

Justru kita harus terus menyebarkan kedamaian sambil bergandengan tangan sesama umat beragama, apa pun agama kita. Kita sudah saksikan di berbagai pelosok, termasuk di Bali, umat lintas agama bersatu untuk menyerukan melawan terorisme, apalagi terorisme yang berkedok agama.

Menyebarkan kedamaian dalam bingkai agama tidak berarti kita menyebarkan agama yang kita peluk agar orang lain mengikuti agama kita. Sudah bukan zamannya lagi kita berkoar-koar untuk mengajak orang lain yang sudah beragama untuk pindah agama. Bukankah semua agama pada intinya menyebarkan kedamaian. Jika pun ada orang yang pindah agama harus disebutkan itu sebagai hak asasi yang bersangkutan. Ini harus dihormati karena di era serba keterbukaan ini tak mungkin ada orang yang mau dipaksa.

Mari sebarkan kedamaian dan orang tak perlu ragu bahwa menyebarkan kedamaian itu berarti mempromosikan sebuah agama dengan maksud orang jadi tertarik untuk mengikutinya. Begitu pula sebaliknya, tak usah ragu untuk menerima orang-orang yang mau menyebarkan kedamaian karena ini berarti menambah perbendaharaan menuju kedamaian yang lebih baik. Tak usah dicurigai sebagai pembawa misi penyebar agama. Itu pikiran masa lalu, yang tak laku lagi di zaman now.

Hari Raya Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma adalah pula hari penyebar kedamaian. Hanya dengan dharma yang unggul maka kedamaian itu lebih terasakan. Belakangan ini Galungan sudah mulai dirayakan di seluruh pelosok Nusantara, tidak lagi hanya dirayakan di Bali sebagaimana yang dulu-dulu. Para pejabat pemerintahan di luar Bali pun ikut “merayakan Galungan” dengan menerima warga Hindu setempat.

Agama Hindu yang juga sesungguhnya agama missi di mana umatnya wajib mengajarkan dan menyebarkan ajaran kedamaian, tentu tak memasang target bahwa pengikut Hindu harus bertambah. Target utamanya adalah kedamaian itu sendiri, damai di dalam interen agama Hindu dan damai bersama umat beragama lainnya. Cobalah baca kitab Yajur Weda XXV.2. Sloka itu berbunyi: Yathenam wacam kalyanim, awadai janebhyah,  rajanabhyam, cudra ya caryaya ca swaya carana ca. Arti bebasnya adalah: “Biar kuajarkan pengetahuan suci ini kepada orang banyak, kaum brahmana, kesatria, sudra, waisya dan bahkan kepada orang asing sekali pun.” Sloka ini harus diartikan sebagai “mengajarkan pengetahuan suci Hindu kepada siapa pun” dan setelah diajarkan orang itu mengikuti agama Hindu atau bukan tak jadi masalah.

Seperti itu pulalah sebaiknya missi dakwah agama lain, sebarkan “pengetahuan suci agama” sebanyak-banyaknya dan serahkan kepada yang mendengar untuk mencernanya. Di bulan Ramadan ini hampir seluruh televisi acaranya bernuansa islami. Siang, malam, subuh, semuanya bernuansa islami, baik itu hiburan, lelucon, apalagi siraman rohani. TVRI Bali yang memasang logo “televisi semeton Bali” juga mengarahkan siaran kerohanian Islam, misalnya, menjelang buka puasa. Kita harus terbiasa menyaksikan semua itu tanpa ada kecurigaan apa pun.

Kepolisian juga gencar-gencarnya memerangi segala kebrutalan, termasuk yang masih suka menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Sudah berapa banyak penyebar kebencian di media sosial yang ditangkap polisi. Bahkan ada anak usia 15 tahun yang baru saja ditangkap karena menyebarkan video yang “mau membunuh Jokowi” meski pun alasannya hanya bikin lelucon. Nah, kenapa lelucon itu diunggah di media sosial? Bukan saja sang anak yang menyesal setelah ditangkap, orang tuanya pun sibuk meminta maaf dan menyesal atas kelakuan anaknya.

Jadi marilah dalam suasana hari raya yang berbarengan ini yang kita sebarkan bukan kebencian tetapi kedamaian. Para penceramah agama marilah kita hindari kata-kata kasar apalagi menjelek-jelekkan agama lain. Dengan menyebarkan kedamaian berarti kita telah berhasil mengendalikan diri kita dari nafsu buruk. Kalau nafsu buruk itu bisa kita kendalikan maka kemenangan dharma melawan adharma bagi umat Hindu pastilah terwujud. Demikian pula bagi umat muslim, dengan pengendalian lewat puasa di bulan Ramadan ini pada ujungnya akan mencapai kemenangan pula, yakni hati yang suci bersih untuk merayakan Idul Fitri.

Selamat Hari Raya Galungan untuk umat Hindu, selamat merayakan Hari Suci Waisak untuk umat Buddha, dan selamat menjalankan ibadah puasa untuk umat muslim. Mari kita wujudkan bumi yang damai. (*)


Oleh : mpujayaprema | 28 Mei 2018 | Dibaca : 728 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?