Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738912

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 402
Total Hits : 738912

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Berlomba-lomba Mencari Surga

Oleh : mpujayaprema | 19 Mei 2018 | Dibaca : 693 Pengunjung

BANYAK orang ingin mendapatkan surga setelah kematiannya tiba. Tapi banyak pula yang takut menghadapi kematian. Bagaimana bisa menginginkan surga kalau takut mati? Memang kematian itu sebuah misteri, tak ada yang tahu kapan saatnya tiba.

Tetapi ada yang tidak takut mati demi mendapatkan surga. Yakni para teroris. Mereka yakin dengan membunuh orang-orang yang disebutnya sesat maka mereka telah melakukan jihad dan kematiannya disambut tujuh bidadari cantik. Karena itu para teroris tak takut meledakkan bom bunuh diri. Bahkan apa yang terjadi baru saja di Surabaya sungguh luar biasa, teroris itu sekeluarga melakukan jihad versi mereka, membawa istri dan keempat anaknya untuk meledakkan bom. Mereka pun mati. Apakah betul mereka disambut bidadari di surga? Tentu tak ada yang tahu karena tak ada seorang pun yang pernah ke surga. Justru semua tokoh agama menyebutkan teroris itulah yang sesungguhnya sesat dalam memahami agamanya.

Siapa yang pernah ke surga? Ada orangnya, tapi terserah apakah cerita itu bisa dipercaya atau tidak. Yakni seorang pemuka agama dari Kerala, India, bernamaTom Maniyangat. Sebagaimana diberitakan oleh Times of India,  Tom mengaku pernah mengunjungi neraka dan surga setelah ia mengalami mati suri pada 14 April 1985. Tom mati suri setelah kendaraan yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil jip.


Tom mengaku disambut para malaikat untuk bertemu Tuhan. Tom diajak melihat neraka lebih dulu. Ia mengatakan, neraka merupakan pemandangan yang mengerikan.Manusia disiksa oleh iblis. Sang malaikat mengatakan penghuni neraka ini akan menderita untuk dapat menebus dosa. Tiap tingkatan neraka didasarkan pada jenis dosa yang mereka lakukan selama dia hidup. Tom lalu diajak ke surga. Bagaimana rupa surga? Begitu damai. Saat pintu surga dibuka, ia mendengar musik yang menyenangkan. "Kata-kata tidak bisa menjelaskan keindahan surga. Sangat banyak kebahagiaan di alam sana," kata Tom.

Bagi orang Bali gambaran surga dan neraka seperti cerita Tom Maniyangat tidaklah asing. Kisah itu ada dalam berbagai cerita. Dalam dunia wayang ada kisah Bima Swarga, perjalanan Bima ke surga. Dalang Cenk Blonk malah menambahkan cerita Hanoman ke Surga. Ada pula cerita Cupak ke Surga. Gambaran penyiksaan di neraka dan kedamaian di surga bermacam-macam tergantung Sang Dalang, hampir sama saja dengan  cerita Tom Maniyangat.

Sebenarnya apa itu surga menurut ajaran Hindu? Surga berasal dari kata Sansekerta dari kata “swar” (svar) dan “ga”. “Swar” artinya cahaya dan “ga” artinya pergi. Jadi “swarga” artinya perjalanan untuk menemui cahaya. Jika kita sudah menemui cahaya maka itulah dunia yang tanpa kegelapan.

Tetapi surga bukan tujuan agama Hindu. Surga hanyalah tempat persinggahan sementara seperti halnya neraka. Kalau neraka menjadi persinggahan untuk mendapat siksaan sebelum kembali lahir sebagai manusia untuk menebus karma buruk, maka surga adalah persinggahan yang damai untuk menunggu saatnya lahir kembali. Ajaran Hindu mengenal punarbhawa atau reinkarnasi, kelahiran yang berulang-ulang.

Tujuan penganut Hindu yang sejatinya adalah moksha, bersatunya Atman dan Brahman. Bersatunya roh dalam alamnya Tuhan. Karena itu doa pendek ketika mendengar orang meninggal dunia adalah “semoga amor ring Achintya” artinya menyatu dengan Achintya, Tuhan yang Maha Esa. Para pendeta (sulinggih) Hindu pun dalam rangkaian ngaben (pitra yadnya) memakai urutan doa dengan Om Swargantu Pitaro Dewam lalu Om Mokshantu Pitaro Dewam dan berakhir dengan Om Sunyantu Pitaro Dewam. Artinya semoga mendapatkan surga atau yang lebih baik lagi semoga moksha sehingga kedamaian abadi (sunya) yang diperolehnya.

Dengan demikian seharusnya kita tidak berlomba-lomba mencari surga tetapi berlomba-lomba mendapatkan moksha. Bukankah seringkali kita mendengar para penceramah agama menyebutkan tujuan utama ajaran Hindu adalah mokshartam jagadhita ya ca iti dharma. Artinya lewat jalan dharma kita bisa meraih kebahagiaan dalam hidup dan pembebasan abadi setelah kematian.

Dengan tercapainya moksha maka kita bebas dari reinkarnasi karena sudah menyatu dengan Tuhan. Orang suci Hindu di masa lalu dianggap telah mencapai moksha, sehingga kita tak pernah mendengar ada Mpu Kuturan atau Danghyang Nirartha yang reinkarnasi. Kalau moksha memang sulit didapatkan tentu tujuan minimal adalah surga. Berbuatlah yang baik dan bukan mencari surga dengan membunuh orang lain seperti teroris itu. (*)


Oleh : mpujayaprema | 19 Mei 2018 | Dibaca : 693 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?