Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738919

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 409
Total Hits : 738919

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Lindungi Kaum Perempuan dan Anak

Oleh : mpujayaprema | 26 Mei 2018 | Dibaca : 655 Pengunjung

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

DESA Pakraman Tegallalang, Kabupaten Gianyar, kini memiliki Pararem Perlindungan Perempuan dan Anak yang disahkan Sabtu pekan lalu. Disebut-sebut bahwa ini adalah pertama kali di Bali. Tidak jelas bagaimana bentuk pararem itu, apakah semacam awig-awig atau sekadar peraturan desa yang bisa diubah setiap saat tergantung kondisi. Namun apa pun bentuknya ini adalah kemajuan dalam hal perlindungan kaum perempuan dan anak-anak di Bali.

Selama ini karena pengaruh adat yang kuat di masa lalu, ada kesan bahwa kaum perempuan dan anak-anak di Bali tidak mendapat perlindungan yang seharusnya sama dengan kaum lelaki. Anak perempuan selalu mengalah termasuk mendapatkan pendidikan dalam keluarga yang sederhana. Selalu anak lelaki yang mendapatkan perlakuan istimewa. Begitu pula kalau anak itu besar dan berumah tangga, anak perempuan tidak mendapatkan waris dari keluarga asal karena dianggap telah menjadi bagian dari keluarga suaminya.

Dalam ajaran Hindu, kedudukan anak-anak itu setara, baik lelaki mau pun perempuan. Tidak ada diskriminasi. Perbedaan lelaki dan perempuan hanyalah masalah fungsi dan peran dalam kehidupan ini. Peran itu merupakan kodratnya lahir ke dunia, karena sama-sama saling melengkapi.

Kitab Manavadharmasastra IX.33 menyebutkan: Ksetrabhuta smrta nari bijabhutah smrtah puman, Ksetrabija samayogat sambhawah sarwa dehinam. Artinya, perempuan diumpamakan sebagai tanah, laki-laki diumpamakan sebagai  benih (bibit), hasil perpaduan kedua kehidupan ini melahirkan kesinambungan.

Bahkan banyak sloka yang justru mengagungkan perempuan. Misalnya Yajurveda XIV.21 menyebutkan: Murdha asi rad dhruva asi, dharuna dhartri asi dharani, ayusve tvavarcasetva, krisyaitva ksemaya tva. Terjemahan bebasnya adalah, wahai perempuan engkau adalah perintis cemerlang, mantap, pendukung yang memberi makan dan menjalankan aturan-aturan, kami memiliki engkau di dalam keluarga untuk usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran, kesuburan dan kesejahtraan.

Yang banyak dikutip adalah sloka ManavadharmasastraIII.58 yang berbunyi: Yatra naryastu pjyante, ramante tarra dewatah, yatraitastu na pjyante, sarvastatra phalah kriyah.Artinya: di mana wanita dihormati di sanalah para dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Di mana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia.

Ada cerita yang tersurat dalam lontar Medang Kamulan, kisah tentang penciptaan manusia. Diceritakan Dewa Brahma (sang pencipta kehidupan) bekerja sama dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa membuat manusia dari tanah, air, udara, api dan akasa. Setelah berwujud maka Dewa Bayu memberikan napas untuk kekuatan tenaga, Dewa Iswara memberikan suara untuk kemampuan berbicara. Sang Hyang Achintya memberikan pikiran (idep). Maka kemudian lahirlah manusia yang diciptakan para dewa itu. Sayangnya wujud manusia itu tidak jelas apakah lelaki atau perempuan, karena tidak berjenis kelamin. Sadar akan ketidak-sempurnaan itu maka Dewa Brahma masuk ke dalam diri manusia yang diciptakan itu. Kemudian Brahma memuja ke arah timur laut, maka wujud manusia itu menjadi laki-laki. Brahma kemudian memuja ke arah tenggara, jadilah manusia itu berjenis kelamin perempuan.  Pada hakekatnya semua ciptaan itu sama martabatnya. Keduanya tak bisa dipisahkan, karena itu dalam kitab suci yang lain, misalnya, Rgveda, “persatuan perempuan dan lelaki” (yang dimaksudkan sebagai perkawinan) disebut dampati, sesuatu yang tak bisa dipisahkan.

Demikian pula dengan anak-anak, haruslah mendapat perlindungan yang lebih baik, apa pun jenis kelaminnya. Dalam agama Hindu anak itu disebut putra. Cuma kata putra itu diadopsi ke dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan seorang anak kandung. Malah putra itu dipersempit artinya menjadi anak lelaki karena untuk anak perempuan dipakai kata putri.

Dalam Manavadharmasastra IX.138 disebutkan, “oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orangtuanya dari neraka yang disebut put, karena itu dia disebut putra”.  Di sinilah ajaran Hindu menekankan pentingnya peran anak di dalam kehidupan. Disebut mengalami neraka bagi orang tua yang tidak menghasilkan keturunan. Neraka itu bisa dihindari karena sang anak menyeberangkan orang tuanya dari kawasan neraka.

Jadi marilah kita lindungi anak-anak dan kaum perempuan dan tinggalkan adat usang yang membuat perbedaan perlindungan itu masih ada. (*)


Oleh : mpujayaprema | 26 Mei 2018 | Dibaca : 655 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?