Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738914

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 404
Total Hits : 738914

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Bersembahyang di Berbagai Tempat

Oleh : mpujayaprema | 02 Juni 2018 | Dibaca : 619 Pengunjung

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

UMAT Hindu tak henti-hentinya bersembahyang di antara Hari Raya Galungan sampai Kuningan nanti. Bahkan persembahyangan itu sudah dimulai enam hari sebelum Galungan, yakni di hari Sugihan.

Berbagai tempat dikunjungi untuk menghaturkan sembah bhakti. Bukan hanya pura, juga kawasan yang dianggap suci lainnya, seperti mata air, campuhan (pertemuan dua sungai), pantai dan lainnya.

Untuk tujuan apa persembahyangan itu? Umumnya kebanyakan umat tak peduli dan tak merasa ingin tahu, apa tujuan persembahyangan itu kecuali memohon doa agar diberi keselamatan, kesehatan, rejeki dan sebagainya. Tetua kita di masa lalu, bahkan masih dipakai tradisi itu, dalam setiap persembahyangan hanya memohon satu hal: nunas ica. Secara harfiah arti kata ini adalah “minta tertawa” artinya diberi kesempatan untuk bisa selalu tertawa. Kalau dirujuk pada arti simbolis dari ungkapan “minta tertawa” itu ternyata maknanya luas. Hanya orang yang mampu tertawa tidak merasakan sakit. Orang tertawa tidak memiliki penderitaan seperti kelaparan karena tak bisa makan. Orang tertawa pastilah senang dalam hidupnya. Karena itu ungkapan pendek nunas ica adalah cermin dari kehidupan yang sejahtra. Kalau dirujuk dengan bahasa agama, ini sejalan dengan tujuan agama Hindu yakni mokshartam jagadhita ya ca iti dharma. Ketentraman lahir bathin, di dunia mau pun setelah kematian.

Rentetan Hari Raya Galungan dan Kuningan sesuai dengan sastra Hindu dalam berbagai lontar, sesungguhnya adalah pemujaan kepada leluhur. Karena itu di berbagai tempat di mana leluhur distanakan dalam bentuk pura, dikunjungi oleh umat. Mulai dari pura keluarga (merajan rumah tangga), pura dadia, pura kawitan, sampai pura yang diwariskan para leluhur, selalu dipenuhi umat dalam rangkaian Galungan – Kuningan ini.

Lalu apa kaitannya dengan kemenangan dharma melawan adharma yang seperti menjadi slogan dalam perayaan Galungan? Istilah ini muncul belakangan, sebutlah sekitar tahun 1960-an ketika banyak lontar dan sastra Hindu diterjemahkan dan diketahui umat. Juga tatkala organisasi umat mulai berdiri, misalnya, Parisada Hindu dan organisasi yang berdasarkan soroh, yang tujuan utamanya adalah menghimpun pratisentara (keturunan) leluhur. Kemenangan dharma ini dikaitkan dengan adanya Sang Bhuta Kala Tiga yang muncul menjelang Galungan. Bhuta Kala Tiga itulah yang harus diperangi sebagai siimbul dari adharma. Sesungguhnya yang dimaksudkan bhuta itu tak lain adalah nafsu kita sendiri yang harus dikendalikan. Setelah bhuta tiga itu berhasil kita kendalikan yang artinya kita bisa mengendalikan nafsu buruk, maka Galungan yang berarti kemenangan kita rayakan dengan menghaturkan bhakti kepada para leluhur.

Memang, pemujaan kepada leluhur bukan berarti otomatis pemujaan kepada Tuhan. Namun konsep bahwa leluhur itu menyatu dengan Tuhan atau diistilahkan amor ring achintya membawa pembenaran bahwa memuja leluhur berarti juga memuja “alam Tuhan”. Itu yang membuat umat Hindu selain menghaturkan sesajen (sodaan) pada pura sebagai stana leluhur juga melakukan persembahyangan di pura yang tidak memuja leluhur. Misalnya Pura Trikahyangan di mana yang dipuja adalah Ista Dewata.

Ini yang membedakan persembahyangan Galungan – Kuningan dengan persembahyangan yang langsung memuja Tuhan, karena Tuhan itu sendiri bisa dipuja di mana saja. Leluhur itu ada banyak, tetapi Tuhan itu ada satu. Yad ekam jyotir bahudha vibhati, demikian bunyi sloka Atharvawda XIII.3.7 Artinya, ada satu Tuhan yang agung bercahaya. Dia bersinar dalam bentuk yang berbeda-beda.

Kalau kita memuja Tuhan atau memujaNya melalui Istadewata tentu berbeda dengan memuja leluhur. Memuja Istadewata berarti memuja di depan patung dewa itu, misalnya, di depan patung Ganesha, Saraswathi, Laksmi dan lainnya. Tentu akan janggal kalau kita memuja di depan Ganesha tetapi mantram yang kita gunakan adalah Saraswathi Stawa. Sedangkan memuja Tuhan secara langsung kita bisa menggunakan berbagai mantram yang berkaitan dengan Siwa dan itu bisa dilakukan di mana saja. Bisa di kamar suci, bisa di ruang kerja asal ada ketenangan.

Melantunkan Puja Trisandhya adalah salah satu cara memuja Tuhan secara langsung dan ini bukan memuja leluhur. Karena itu kewajiban umat Hindu dalam keseharian adalah melantunkan Tri Sandhya tiga kali sehari, sesuai dengan namanya. Sedang bersembahyang ke berbagai tempat fungsinya bisa ganda, memuja leluhur dan memuja Tuhan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 02 Juni 2018 | Dibaca : 619 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?