Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738911

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 401
Total Hits : 738911

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Surga

Oleh : | 19 Mei 2018 | Dibaca : 948 Pengunjung

Oleh Putu Setia (Mpu Jaya Prema)

ROMO Imam mengundang saya berbuka puasa. Tak ada yang khusus, juga makanan yang dibuat Bu Imam. Cuma kangen lama tak bertemu. “Apa Romo yakin saya berpuasa hari ini?” tanya saya. Azan mengalun. Romo segera membatalkan puasanya dengan minum teh hangat.

“Apa pentingnya saya tahu kalau sampeyan berpuasa atau tidak? Kalau pun sampeyan tidak berpuasa lalu menyebut berpuasa, siapa yang sampeyan tipu? Puasa itu urusan sampeyan sama Yang Di Atas,” ujaran Romo ini saya sambut dengan tertawa. Kami mengambil makanan.

Di sela-sela makan, Romo menceritakan masa kecilnya. Suatu hari dia begitu haus di siang yang panas, lalu masuk kamar. Diam-diam dia meneguk minuman dan keluar dari kamar seolah-olah tak pernah membatalkan puasanya. Saat berbuka bersama keluarga, ayahnya memberi wejangan: “Puasa itu adalah keikhlasan dan kejujuran, hanya Allah yang tahu apa kita melakukannya dengan benar untuk membersihkan hati.”

Romo minum seteguk. “Pengalaman masa kecil membuat saya paham bahwa puasa adalah urusan yang sangat pribadi. Kalau kita berdusta, untuk apa dusta itu kalau Tuhan maha tahu? Kalau ada yang tidak berpuasa apa hak kita untuk memaksa orang itu berpuasa? Biarlah mereka berurusan dengan Gusti Allah. Kalau melihat orang makan di restoran, kenapa kita nyinyir apalagi marah-marah? Puasa itu ujian mengendalikan diri, justru godaan itu ibarat menyelesaikan soal-soal ujian. Kalau restoran disuruh tutup hanya untuk menghormati orang berpuasa, berarti ujiannya ditiadakan, kapan kita lulus sebagai manusia beriman?”

Sambil bersantap, saya memberikan tanggapan:  “Kalau puasa untuk membersihkan hati dan mengendalikan nafsu, apakah kita bisa berharap mendapat pahala dari puasa itu? Misalnya, kelak kalau kita tiada, mendapatkan surga.”

Romo langsung menghentikan santapannya. “Sampeyan ini kayak teroris saja. Apa pun dilakukan demi janji mendapat surga. Membunuh orang pun disebut mendapatkan surga, mana ada ajaran agama seperti itu. Pahala itu biarlah Tuhan yang menentukan tergantung amal kita. Puasa hanya salah satu amal dari keikhlasan kita.”

Romo meneruskan. “Puasa dan surga terlalu jauh dikait-kaitkan. Dalam kitab agama memang banyak disebutkan bagaimana alam surga dan alam neraka. Surga penuh kedamaian, neraka penuh siksaan. Di agama sampeyan juga begitu kan?”

“Betul Romo,” saya menjawab. “Tapi deskripsi surga neraka itu kebanyakan imajinasi para dalang dan tetua yang diwariskan turun menurun. Lalu jadi keyakinan, sulit diperdebatkan. Padahal kalau dirunut, surga itu berasal dari kata Sansekerta, svarga yang dibaca swarga. Svar artinya cahaya dan ga artinya pergi. Svarga artinya pergi menemui cahaya. Kalau cahaya berhasil ditemui maka segala kegelapan tak ada lagi. Itulah kedamaian.”

Romo mengambil sebuah buku di rak. “Ini ada kitab warisan leluhur orang Jawa berbahasa Jawa Kuno himpunan Bhagawan Wararuci,” dan Romo membuka buku itu membaca sebuah kalimat. “Indriya ikang sinanggah swarga naraka,  kramanya yan kawasa kahrtanya, saksat naraka ika. Nafsu itu adalah surga dan neraka, jika nafsu bisa dikendalikan itulah surga, jika lepas kendali itulah neraka.”

Saya nyeletuk: “Kalau begitu puasa dekat dong sama surga. Berhasil menjalankan ibadah puasa dengan sempurna berarti kita bisa mengendalikan nafsu, bukankah itu surga? Jangan-jangan lebaran itulah surga, kita kembali menjadi suci, kembali fitri...”

Romo tersenyum: “Saya susah komentar, agama bisa diruwet-ruwetkan bisa pula disederhanakan. Yang penting kita beramal baiklah, itu sudah cukup.”

(Korean Tempo Akhir Pekan 19 Mei 2018)


Oleh : | 19 Mei 2018 | Dibaca : 948 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?