Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738916

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 406
Total Hits : 738916

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Kemenangan

Oleh : mpujayaprema | 26 Mei 2018 | Dibaca : 929 Pengunjung

Oleh Putu Setia (Mpu Jaya Prema)

INI bukan cerita tentang kemenangan dalam bidang olahraga, meski ASIAN Games sudah semakin dekat dan kurang ada gemanya. Juga bukan soal kemenangan pemilihan gubernur apalagi pemilihan presiden, yang belum dimulai namun sudah hiruk pikuk. Ini kemenangan tanpa ada piala, kemenangan tanpa ada gugatan, kemenangan tanpa ada yang merasa kalah.

Inilah kemenangan tentang menahan hawa nafsu. Umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Salah satu yang ingin dicapai adalah kemenangan menahan godaan nafsu sehingga lahir kembali menjadi fitri. Lebaran adalah perayaan kemenangan itu.

Di tengah-tengah bulan puasa, umat Hindu merayakan kemenangan dharma melawan adharma -- segala hal yang buruk terutama nafsu dalam diri. Hari Raya Galungan dirayakan Rabu pekan depan, berlanjut selama 10 hari sampai pada perayaan hari Kuningan. Sementara umat Buddha merayakan “hari pencerahan” Tri Suci Waisak pada Selasa depan yang nuansa kedamaiannya sangat terasa. Tentu adalah kebetulan hari-hari suci dengan tema pengendalian diri ini berbarengan adanya. Patut disyukuri bahwa negeri yang majemuk ini tetap damai tanpa gangguan yang berarti.

Memang sebelum Ramadan ada bom meledak di tiga gereja di Surabaya. Pelakunya satu keluarga  melibatkan anak-anaknya yang masih kecil. Entah keyakinan apa yang bisa menggerakkan pasangan suami istri itu sampai bunuh diri dengan empat anaknya. Yang pasti sebuah keyakinan yang dikutuk oleh semua pemuka agama. Ada benarnya kita tak usah mengkaitkan si pelaku pengebom dengan agama yang ada di dalam kartu identitasnya. Kalau itu kita kaitkan justru kita menjadi “kalah” karena asyik berdebat atas perbuatan orang sesat. Kita harus jadi pemenang dengan cukup mengutuk perbuatan mereka.

Kebetulan atau bukan, teror Surabaya membuat orang ingat betapa molornya penyelesaian revisi Undang-undang Antiteroris. Sudah dua tahun revisi itu mengendap di DPR. Baru ketika Presiden Joko Widodo memberikan ancaman “kalau revisi undang-undang itu tak selesai bulan Juni akan mengeluarkan Perppu” pembahasan kembali dikebut. Sejumlah pasal yang dulu alot dibicarakan tiba-tiba mendadak lancar. Yang jadi perdebatan di ujung perjalanannya justru apa itu definisi dari teroris. Salah satunya, berkaitan dengan politik atau tidak?

Jika dikaitkan dengan politik, bagaimana kalau teroris yang tertangkap hidup tak bisa dikorek keterangannya soal politik? Misalnya dia ngotot mengaku menjalankan aksi terornya semata-mata karena keyakinan. Sebutlah misal yakin mati syahid dan yakin mendapatkan surga. Bagaimana menghukum keyakinan?

Perdebatan seperti ini memberi peluang untuk kemenangan teroris. Kita asyik mencari-cari definisi, selain asyik mengurusi masalah hak asasi manusia dalam kaitan dengan terorisme, sementara teroris itu sendiri barangkali tak begitu penting mencari definisi di mana bom akan diledakkan. Bahkan para teroris tak perlu mempertimbangkan hak asasi manusia yang akan dijadikan korban.

Apakah mungkin kita melawan teroris dengan pendekatan lain? Kita memperoleh kemenangan tetapi (calon) terorisnya tidak merasa kalah. Misalnya lewat pendekatan keagamaan. Jangan lelah meyakinkan mereka bahwa tak ada surga yang bisa diperoleh manusia jika jalan yang ditempuh adalah membunuh orang. Saat kita berada di bulan suci inilah seharusnya pendekatan keagamaan itu dilakukan. Intinya kita mencegah paham radikalisme sejak awal dengan pencerahan agama yang benar, bukan mengajarkan kebencian. Terlalu ideal? Ya, tapi mari dilakukan.

(Koran Tempo Akhir Pekan 26 Mei 2018)


Oleh : mpujayaprema | 26 Mei 2018 | Dibaca : 929 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?