Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


498887

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107190

Hits hari ini : 120
Total Hits : 498887

Pengunjung Online: 4


Twitter
Perihal

Sekilas Tentang Saya:

Om Swastyastu, Salam Damai

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, begitulah nama yang diberikan oleh guru spiritual saya pada 21 Agustus 2009 dini hari di Pasraman Manikgeni Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Sebelum itu nama yang saya sandang sejak lahir (4 April 1951) adalah Putu Setia. Pada saat berkecimpung di era Brahmacari dan Grahasta saya bekerja di Majalah TEMPO (1974-2006) dan pensiun sebagai Redaktur Senior.

Sampai saat ini pun saya masih menulis di Kelompok Media Tempo karena darah saya adalah wartawan sementara jiwa saya adalah pendeta. Tulisan yang rutin bisa dibaca di Koran Tempo edisi Akhir Pekan. Jika di sana masih tertera nama saya yang lama, itu lebih karena masalah "pasar" -- kebetulan Nabe atau Guru spiritual saya mengizinkannya untuk waktu yang tidak lama. Namun, di luar urusan itu semua, nama lama tak bisa lagi dipakai.

Bagaimana menyebut saya? Di Bali, umumnya disebut sebagai Pandita Mpu. Ini sebutan yang formal. Namun di masyarakat pedesaan, ada sebutan khas yaitu: Nak Lingsir. Nak dari kata Anak atau manusia, Lingsir dari kata Tua. Jadi anak atau manusia yang dituakan yang juga berarti orang yang dihormati. Semoga info singkat ini tidak membuat orang bertanya-tanya, siapa sejatinya saya.

Memang, saya tak enak menulis tentang diri sendiri. Bagaimana kalau tulisan sahabat saya, Toriq Hadad, di bawah ini disimak juga? Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik Cari Angin Koran Tempo. Seperti diketahui, kalau saya berhalangan menulis Cari Angin karena berbagai hal (pergi ke luar kota atau sakit, misalnya) maka Toriq Hadad menggantikannya. Silakan dibaca, kalau memang diperlukan.

Dua Dunia Putu Setia

Oleh Toriq Hadad

MUMPUNG ada peristiwa istimewa, perkenankan saya menulis tentang Putu Setia, pencipta dan penulis rubrik Cari Angin ini. Ya, peristiwa itu luar biasa untuk wartawan senior Tempo yang kini 58 tahun itu serta Ni Made Sukarnithi, istrinya, tentu juga untuk umat Hindu di Bali.

Jumat dinihari lalu, di Pasraman Dharmasastra Manikgeni di Banjar Taman Sari, Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, setelah menjalani prosesi Rsi Yadnya Mediksa atau wisuda pandita, lengkaplah pasangan itu menjadi brahmana sejati. Mereka menjalani dwi jati atau upacara kelahiran kedua. Ia mencapai tahap bhiksuka, di mana orang melepas segala hal duniawiah.

Maka, Putu Setia praktis ”dimatikan”, menjelma menjadi Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Konon kata ”Prema” – yang berarti kasih sayang – datang langsung dari Tuhan lepas tengah malam itu. Sementara lima kata yang lain sudah menjadi standar resmi pendeta Bali. ”Bisa saja yang datang dari Tuhan nanti kata Tempo,” ujar Putu Setia sambil bercanda melalui telepon, beberapa jam sebelum wisuda.

Ia -- yang pada tahun 1978 sudah menjadi kepala biro Tempo untuk Yogya dan Jawa Tengah -- memang menyebut Tempo sebagai salah satu gurunya. Ketika guru nabe-nya menjelaskan bahwa ia harus memilih orang dan bukan organisasi, ia memilih salah satu nama, tapi tetap mencantumkan Tempo sebagai guru baginya.

Saya -- yang berbilang tahun tinggal satu kompleks dengannya di Pamulang Permai -- gembira untuk pencapaian besarnya ini. Saya tahu ia berjuang untuk umatnya, misalnya dalam hal kasta. Semua orang konon lahir sebagai sudra. ”Di Bali tak ada kasta, yang ada warna, ajaran Hindu yang memberi kesempatan setiap orang menjadi apa saja. Kalau mau jadi brahmana, belajarlah ritual agama. Kalau mau jadi Wesya, belajarlah menjadi pedagang,” katanya suatu kali. Dan ia memutuskan tak menjadi petani (sudra) tapi menjadi brahmana dengan belajar ritual agama, selepas pensiun sebagai karyawan tiga tahun lalu. Ia memprakarsai penerbitan buku ”Kasta: Kesalahpahaman Berabad-Abad”. Ia ikut mendirikan Forum Cendekiawan Hindu Indonesia.

Maka, bila berkunjung ke Bali, saya tak bisa lagi seenaknya memanggil dia Mas, Pak, atau Bos seperti biasa. Saya akan panggil dia Pandita – atau Pak Pandita, kalau boleh. Saya harus mulai menahan diri tidak tertawa geli melihat kerucut (kuncir bundar) rambut di bagian atas kepalanya. Saya mesti mulai terbiasa dengan busana wiku putih-kuning yang dikenakannya ke mana saja. Saya tahu sekarang ia mesti sering melayani umat dan sembahyang dengan membunyikan bajra (genta kecil), merapal bacaan seloka dari Catur Weda, sembari jari tangannya memperagakan mudra.

Saya tadinya merasa kehilangan Putu Setia. Kehilangan sahabat dengan rasa humor yang ”gila-gilaan”. Ketika Tempo berkantor di Kuningan, dan bertetangga dengan kedutaan Australia -- di mana kami bisa menyaksikan para bule berenang di kolam renang -- Putu mengaku sudah lama membangun kolam renang di rumahnya. Untuk itu rumahnya dijaga khusus oleh seorang satpam. Begitu meyakinkan ia bercerita, sampai suatu kali direktur keuangan sengaja datang ke rumahnya. Tentu saja yang ada hanyalah kolam ikan kecil di rumah 200 meter persegi itu. Satpam memang kebetulan lewat, tapi itu satpam RT yang menjaga seratus rumah yang lain.

Humor itu selalu mewarnai tulisan-tulisannya. Bagi kami di Tempo, hanya dia yang bisa menulis dengan jenaka. Dia juga penulis yang sangat produktif. Tiga seri ”Menggugat Bali” merupakan sebagian dari banyak karyanya. Maka, dalam tugas pelayanan rohani nanti, semogalah dia diijinkan berdakwah lewat tulisan. Saya tahu menulis adalah hidupnya. Dan tulisannya lebih menggugah ketimbang bila ia diminta berpidato – bicaranya terlalu cepat atau pasti cenderung mengajak bergurau.

Rasa kehilangan saya terobati. Sebuah pesan pendeknya mampir di hand-phone saya: nama Putu Setia tetap dipatenkan di dunia kewartawanan. Alhamdulillah. Kelebihannya dalam menyampaikan ”dakwah” melalui tulisan rupanya diakui para guru spiritualnya. Artinya pekan depan ia sudah mulai menulis Cari Angin lagi – semoga tetap dengan ”kenakalan” seorang Putu Setia.***

(Cari Angin Koran Tempo, 23 Agustus 2009)

 

Data Tambahan:

Nama Lahir: Putu Setia

Tanggal lahir: 4 April 1951 (Rabu Pahing Wuku Kerulut)

Nama Diksa/Bhiseka: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Tanggal Diksa: 21 Agustus 2009 (Tilem Karo)

Alamat: Pasraman (Griya) Dharmasastra Manikgeni, Banjar Taman Sari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Alamat Lain (surat): Griya Alit Manikgeni, Jl. Pulau Belitung Gg. II No. 3, Desa Pedungan, Denpasar 80222.

Kontak Telepon: 0812 911 0977 -- 0878 6232 6464 - 0362 71116 (Pujungan) - 0361 723765 (Denpasar)

Kontak Email: mpujayaprema@yahoo.co.id -- mpuprema@gmail.com

Twitter: @mpujayaprema. Facebook: Mpu Jaya Prema Ananda

Pendidikan: Sekolah Rakyat,  Sekolah Menengah, selebihnya autodidak dan berguru ke alam, lingkungan, dan bacaan

Karya fiksi yang dibukukan: Sumpah (Novel, 1974), Nyoman Kusumadewi (Novel, 1975), Di Ujung Dendam (Novel, 1979), Intel Dari Comberan (Kumpulan Cerpen, 1994).

Karya Non-Fiksi yang dibukukan: Menggugat Bali (1986), Mendebat Bali (2002), Bali Yang Meradang (2003)

Karya agama yang dibukukan: Cendekiawan Hindu Bicara (1991), Suara Kaum Muda Hindu (1992), Hindu Menyongsong Abad 21 (1992), Kasta Kesalahpahaman yang Berabad-abad (1992), Kebijakan Hindu (1993), Surat Terbuka Untuk Umat Hindu (1993), Memuja Leluhur (2009), Lentera Lereng Batukaru (seri 1 dan 2).

Pekerjaan: Reporter Angkatan Bersenjata edisi Nusra & Koresponden Berita Yudha (1973-1974), wartawan Bali Post (1974-1978). Kepala Biro TEMPO Jawa Tengah & Yogyakarta (1978-1982), wartawan Tempo Jakarta (1982-1994), Redaktur Forum Keadilan (1994-1998), Redaktur Tempo (1998-2006). Pensiun 2006 dengan jabatan Redaktur Senior Media Tempo Grup sampai sekarang.

Organisasi Politik: Gerakan Siswa Nasional Indonesia (saat di sekolah menengah), Gerakan Pemuda Marhaenis & Partai Nasional Indonesia (saat remaja), Partai Demokrasi Indonesia (saat jadi wartawan di Bali). Sejak di Yogyakarta meninggalkan partai dan anti-partai sampai sekarang.

Organisasi Profesi: Ikatan Penulis Pariwisata, Persatuan Wartawan Indonesia.  Sejak 1996 tak memperpanjang keanggotaan PWI dan tak memasuki organisasi wartawan apapun. 2011 diberi predikat Wartawan Utama oleh Dewan Pers.

Organisasi Keagamaan: Pendiri dan Ketua Umum (pertama & kedua) Forum Cendekiawan Hindu Indonesia (1991-1997), anggota Sabha Walaka PHDI Pusat (2002-2006), Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat (2006-20011), Sabha Pandita PHDI Pusat (2011-2016).

Lain-lain: Pernah menjadi pemain, sutradara, pembina Drama Gong Taruna Jaya Kusuma Desa Pujungan, dan pernah menari bersama kelompok Banjar Teges mementaskan Dongeng Dari Dirah sutradara Sardono W. Kusumo di Jepang selama 28 hari.



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?